Rokokmu Yang Akan Membunuhku Dan Lasih!

Dan aku melihat segalanya telah menjadi merah. Semua orang sedang berteriak-teriak meminta pertolongan. Keadaan begitu kacau. Banyak nafas memburu dan banyak nyawa diburu. Aku berdiri bergeming memandang kemerahan itu. Aku tercekat dalam pekat asap kepul di udara. Bangunan rumah susun yang biasanya kupandangi jengah karena kejelekannya kini makin jelek saja, bahkan hitam gosong dari kejauhan. Orang-orang berlari berserakan dalam tangis darah mereka. Membawa ember-ember air yang bahkan tidak membantu. Teriakan-teriakan, lolongan-lolongan, rintihan-rintihan menyesakkan suasana. Ibu-ibu itu menangis hingga pingsan, bapak-bapak tak henti-henti mengekstafetkan air dan anak-anak kecil kehilangan arahnya. Melihat suasana ini, aku mual, aku ingin muntah. Dan akhirnya aku hanya bisa berdiri dalam geming tak terbantahkan, melihat api merah menyala-nyala didepanku. Bergoyang, bergejolak, menunjukkan nafsu memangsanya yang luar biasa. Dan melihatnya seakan aku kembali diingatkan, kini aku telah sendiri, dan dia sedang tertawa mengejekku atas kesendirian ini. Maka aku terlalu pilu untuk hanya sekedar menyeret tubuhku. Membawaku melangkah berusaha mengetahui bagaimana kabar Nah, dan Lasih, istri dan anak perempuanku.

Nah dan Lasih sedang tidur saat aku meminta izin membeli rokok. Mereka berpelukan dibawah selimut kumal yang telah tipis dan kotor, itu seingatku. Aku membangunkan Nah, dan mengatakan, ”Aku keluar dulu, beli rokok!”. Dan Nah bangun seraya melebarkan matanya, ”Kau mati tidak merokok, mau beli pakai uang apa?. Susu Lasih habis kau tak mau belikan, sekarang rokok yang baru kemarin kau beli habis kau langsung membelinya!Aku dan Lasih yang mati karena rokokmu!”bentaknya. Aku tak hirau dan meraih jaketku, kupegang erat putung rokok terakhirku dengan kuat. ”Mas, berhentilah merokok, sisihkan uangnya untuk membelikan Lasih susu daripada hanya kau belikan rokok. Kita ini miskin, Mas, merokok tidak cocok untuk kita, itu seperti membakar uang saja!”kini Nah meraih lenganku. Aku hanya diam saja. Dan matanya semakin membesar, matanya merah menunjukkan lelah. ”Dapat uang darimana?”tanyanya tegas. Kurasakan tangannya begitu kasar dilenganku. Detergen dan sabun telah menempa tangan sang buruh cuci ini menjadi tak lebih halus dari tangan seorang kuli, tanganku. Aku masih diam dan dia mengulangi pertanyaannya. ”Ada, aku ada simpanan!”jawabku dan kulepaskan pegangannya pada lenganku. Nah makin marah. ”Untuk rokok kau mampu menyimpan uang, tapi untuk aku dan anakmu tak pernah tersisih sedikitpun hasil kerjamu!Mas, tak usah membeli rokok, kemarikan uangnya! akan kugunakan membeli susu Lasih!”bentaknya. Dan suasana tiba-tiba menjadi panas. Aku benci mendengar kata-katanya. Aku ayah yang bertanggung jawab, aku bekerja untuk mereka walaupun pas-pasan saja untuk kami. Bulan ini kami memiliki pemasukan dari hasilku menguli di proyek bangunan, dan berikanlah aku sedikit penghargaan untuk itu dengan tidak usah rewel menghalangiku membeli rokok. Kami para lelaki dilahirkan untuk menghisap benda itu hingga kami mati, memberikan kelegaan dan fantasi yang tak bisa dijelaskan. Rokok lebih berharga dari nasi untukku, bisa mati aku tak merokok, dan mengapa istriku tak menyadari dan mengerti itu?. Aku berjalan kearah pintu dan tak menghiraukan Nah lagi. ”Kau benar-benar keterlaluan, Mas!kau tidak bertanggung jawab!Rokokmu yang akan membunuhku dan Lasih!”. Habis sudah kesabaranku. Kudatangi istriku yang berdiri dibakar amarahnya sendiri, dan Plak! Kutampar wajahnya dan aku berlalu setelahnya. Kubanting pintu rumah susun kumuh kami. Kutelusuri tangga turunnya, dan aku berjalan dengan marah. Putung rokok yang masih tersisa sedikit itu kehempaskan dengan marah ketumpukan sampah disamping rusun yang meninggi dan berbau terlalu tak sedap itu. Aku jengkel, aku marah, dengan kemiskinan yang terkutuk ini. Mengapa aku begitu miskin, hingga membeli rokok saja memicu pertengkaran dengan istriku. Aku merana, aku bertanya, aku nelangsa. Hidup yang tak pernah sudi dibayangkan manusia harus kujalani. Aku terlalu miskin untuk membeli rokok, itulah yang dipikirkan istriku. Memangnya yang berhak membeli rokok hanya orang-orang kaya saja?gelandangan yang paling menggelandang saja menyisihkan uang untuk rokok. Rokok adalah kebutuhan pokok. Filosofinya sama dengan begini, apakah kau tidak akan menikah jika kau adalah orang miskin?kurasa tidak!menikah itu kebutuhan, tidak peduli kau miskin atau kaya, sama seperti merokok. Itulah aku dengan rokok yang kunantikan akan kubeli.

Mukaku masam saat menghadap kios usang diujung gang. Pak Rahmad masih membuka kiosnya walau malam telah larut. Biasa, masih banyak bujang dan lapuk yang sekedar kongkow disekitar kiosnya. Membawa gitar, menyanyikan lagu-lagu pemuda-pemudi jaman sekarang yang tak ada rimanya. Mengganggu gadis yang kebetulan lewat, sampai bermain togel jika tanggal muda. Lapuk-lapuk tak kalah dalam tongkrongan ini. Mereka bicara banyak hal tinggi, politik apatis yang lucu jika didengar. Mengapa?karena tiba-tiba mereka yang hanya jebolan SD ini menjadi terdengar begitu pintar. Bak profesor sedang mengajar, menipu teman-teman sebayanya yang hanya lulusan TK. Yah, itulah ironi kehidupan dilingkunganku, kami buta pengetahuan tapi kaya asam-manis kehidupan, walau aku sangsikan hidup kami bisa dibilang manis, karena hal termanis yang pernah kualami dalam hidupku hanyalah malam pertama dan saat kelahiran anakku, selebihnya semua tampak begitu muram untukku.

Seperti biasa, Pak Rahmad menyapaku dengan senyumnya yang riang. Aku membalas senyum itu malas. ”Rokok yang biasa ,Pak!”pintaku sambil kurogoh kantung celanaku. Pak Rahmad sudah hafal betul merek rokok yang biasa kubeli. Kutunggu dan tak begitu lama rokok itu telah diserahkannya padaku. Kuraih rokok itu di dalam genggamanku. Kupandangi bungkusnya, sejenak aku tertegun. Melihat bungkus rokok yang bungkam dan tergeletak lemah diatas tangan kasarku, aku menjadi dilema. Benda ini begitu indah diatas tangan kotor dan kasar seperti tanganku. Bungkusnya yang putih dan masih diselubungi plastik menunjukkan kelasnya. Tak ada benda yang begitu bersih dan mengkilat serta masih dibungkus plastik seperti ini dirumahku. Segalanya disana terlihat kusam, sedangkan benda ini begitu bersih dengan desain kotak yang menarik walaupun hanya sekotak rokok. Baru kusadari, rokok yang biasanya kubeli ini terlihat begitu mewah ditanganku. Teriakan Nah terdengar jelas ditelingaku, tatapan matanya kini menghantuiku. Membuatku bimbang dalam perbelanjaan ini. Akankah kubeli rokok ini?atau kuturuti saja kata-kata Nah untuk menggunakan uang pas yang ada dikantongku untuk membeli susu anak kami, Lasih. Lasih, yah, dia masih terlalu kecil untuk dilepaskan dari susu. Umurnya baru 2 tahun dan dia terlalu banyak minum tajin. Ayah macam apa aku?, mementingkan diri sendiri untuk rokok sedangkan anaknya hidup kurang gizi. Otakku memanas, dan hatiku meraung meneriakkan dua hal yang berbeda bergantian. Tapi aku juga butuh benda yang bisa membuatku merasa nyaman setelah seharian lelah bekerja, aku butuh rokok, dan mungkin kini aku akan benar-benar menghematnya. Aku tidak akan menghabiskannya segera satu hari seperti sebelum-sebelumnya, mungkin akan kuhemat sampai dua hari. Jika aku tahan mungkin tiga hari. Atau ini rokok terakhir yang akan kubeli, terakhir dan aku berjanji selanjutnya akan menggunakan uang membeli rokok untuk membeli susu Lasih saja. Yah, hatiku menjadi tidak terlalu berat lagi, ini rokok terakhir!aku berjanji!. Tapi kuingat lagi kejadian-kejadian lampau saat aku bertengkar dengan istriku tetap masalah rokok, dan saat itupun aku berjanji bahwa itulah rokok terakhir, tapi buktinya aku masih membelinya terus hingga hari ini. Jika dihitung-hitung, benar kata Nah, uang rokok jika kukumpulkan bisa digunakan membeli susu untuk Lasih. Aku menjadi kecewa lagi.

Pak Rahmad memandangku bingung, terlalu lama aku tertegun memandangi sekotak rokok dan merubah-ubah ekspresiku. Uang yang akan kuberikan masih tersekap dalam kantongku. Aku bingung. Yah, inilah susahnya menjadi orang miskin, membeli rokok saja butuh pertimbangan panjang dan lama luar biasa. Orang susah, yah, itulah filosofinya mengapa orang miskin seperti kami disebut orang susah. Membeli rokok saja, begitu susah keputusan yang harus diambil. Susah uangnya, susah mikirnya, susah segala-galanya. ”Jadi beli tidak?”tanya Pak Rahmad tak seriang tadi. Aku tersadar dari tegunku yang mulai melantur. Aku memandang wajah Pak Rahmad pilu. Dia masih menunggu dan menatapku bingung. Pak Rahmad sungguh tak mengerti dilema yang sedang berkecamuk didalam hatiku. Ia tak bisa mendengarkan rintihan batinku walau jarak kami begitu dekat. Entah siapa yang bisa mendengar keresahan ini. Ah, itu tidak penting, tahupun mereka tak akan peduli. Aku membuat keputusan, yah keputusan yang sekiranya baik saat ini. Aku tahu, aku harus berhenti merokok, demi keluargaku. Aku telah menampar Nah, istriku, hanya demi sekotak rokok. Aku lebih membela rokok daripada keutuhan rumahtanggaku. Tiba-tiba aku menyesal, aku ingin bertemu Nah dan meminta maaf padanya. Dan Lasih, anak 2 tahun itu harus berhenti minum tajin. Itu tak baik untuk pertumbuhannya. Lasih lebih butuh susu daripada aku dengan rokok ini. Lasih adalah darah dagingku, penerusku. Bagaimana mungkin ia kubiarkan meringkuk dalam kemiskinan seperti kami. Lasih yang masih memiliki masa depan, dan masa depannya harus secerah matahari. Yah, rokok ini hanya akan menghambat masa depan Lasih yang indah, mengapa baru kusadari hal ini?. Kini aku telah mantap, memang uang begitu penting untuk kami, dan tak sepatutnya kubakar demi memenuhi hasrat egoisku. Aku menatap Pak Rahmad mantap,dan berujar, ”Maaf, Pak, nggak jadi, nggak ada uang buat beli rokok!”dan aku nyengir kuda seraya berjalan meninggalkan kios itu. Beberapa bapak-bapak yang sedang asyik bermain kartu menyapaku dan memintaku bergabung dengan mereka. Wajah mereka telah penuh dengan jepitan jemuran dan belepotan bedak. Yah, hiburan masyarakat susah, semua serba murah meriah, masih dirundung derita. Dikira jepitan jemuran tak menyakitkan?aku tertawa sambil menggeleng kearah mereka menunjukkan penolakanku yang sopan. ”Ayolah, kita main dulu, beberapa ronde lah!”pinta mereka. Aku menggeleng sopan, ”Maaf bapak-bapak, sudah larut, nanti aku dicari istriku. Dan lagi besok pagi aku harus kerja pagi, nanti tak cukup tidur bisa kacau.”dan aku berlalu. Tak jadi membeli rokok membuat dadaku lega. Kini aku mengerti segala hal yang selalu Nah teriakkan, mengumpatku atas kebodohanku begitu membela rokok. Aku telah merasakan posisi Nah sekarang. Aku mengerti walaupun terlambat. Yah, tapi aku masih bisa memperbaikinya kan?aku telah mengucapkan salam perpisahanku dengan rokok-rokok itu. Semua demi Nah, semua demi Lasih, dan pada dasarnya semua demi kebaikan yang lebih besar.

Aku menelusuri jalanan pulang dari kios saat langit malam mendadak menjadi agak jingga. Asap mengepul makin besar dari langit didepanku. Teriakan-teriakkan yang memekakkan memenuhi udara. Aku panik, dan tahu bahwa itu adalah api. Dan sialnya berasal dari arah rumah susunku. Beberapa warga yang berlarian mempersulit langkahku. Aku makin ketakutan. Jangan!jangan sampai kebakaran ini dari  rumah susun tempatku tinggal. Aku tak memperdulikan tarikan-tarikan orang pada tubuhku. Aku menerobos, aku menerjang, aku mendekat. Aku kebingungan, berusaha menggapai sumber api. Ledakan diujung sana membuat suasana makin berkecamuk. Orang-orang berlarian sambil berteriak-teriak memanggil-manggil sanak saudaranya dan aku terlalu panik untuk memintanya berhenti berteriak. Ledakan lagi dan aku makin dekat. Api yang berkobar diujung sana telah tampak olehku. Dan saat sampai, kerumunan orang menghalangiku. Kuterobos untuk memastikannya. Yah, rumah susunkulah yang benar-benar terbakar. Merah, dia telah dirajai warna merah yang menyala. Membuat badanku lemas. Aku kebingungan, dan kusambar salah seorang tetanggaku di rusun. ”Nah?Lasih?Kau melihatnya?”teriakku, dan dia hanya menggeleng. Kutanyai orang satu per satu dan tak ada yang merasa melihat Nah dan Lasih. Beberapa orang malah tak perduli dengan pertanyaanku. Aku berteriak-teriak memanggil nama Nah diantara gegap gempita manusia meneriakkan nama lainnya. Dan Nah tak pernah menyahutku. Kini aku hanya berdiri pasrah memandang rumah susun yang terbakar itu. Dimana Nah?dimana Lasih?aku benar-benar tak tahu rimbanya. Didalamkah?sudah keluarkah?matikah?hidupkah?sungguh aku tak tahu. Aku tak punya daya lagi untuk mencari mereka yang kuyakini telah mati dilalap api.

Pemadam kebakaran datang, agak lama dari seharusnya. Api baru bisa dipadamkan setelah dua jam. Sementara aku bergabung dengan warga lain memandangi bangunan itu tanpa mampu berbuat apa-apa. Menangispun aku tak mampu, tapi hatiku lebih pilu dari pada tangis. Dan tiba-tiba mayat-mayat mulai bermunculan dari kejauhan. Diangkat oleh pemadam kebakaran dan dibantu oleh beberapa warga. Aku bergeliat, hatiku berkecamuk. Haruskah kudatangi mereka untuk kupastikan itu bukan Nah dan Lasih. Dan aku benar-benar pergi mendekat. Beberapa mayat digelar diatas plastik yang membentang untuk dikenali warga. Aku menulusuri mayat-mayat yang telah gosong tapi masih bisa dikenali itu. Aku melihat Pak Budi telah begitu buruk rupanya, padahal ia begitu baik semasa hidupnya. Tompel di bawah dagunya adalah tanda bahwa itu adalah dia. Bu ningsih, Diman, si kecil Bayu, dan beberapa orang yang aku benar-benar mengenal mereka dengan baik, tergeletak menjadi mayat gosong karena terjebak api. Dan pada akhirnya aku melihat mereka, Nah dan Lasih. Mereka masih berpelukan, mendekap satu sama lain seperti saat terakhir kulihat kebersamaan mereka. Nah, kulitnya kini telah menghitam dan lecet dimana-mana. Dalam dekapannya, anakku Lasih terbujur kaku. Aku terjatuh didepannya. Kakiku gemetaran dan tak mampu menopang beban pria jalang macam aku. Nah dan Lasih memayat didepanku. Nah dan Lasih lebih buruk dari ikan bakar tampangnya. Dan Nah dan Lasih mereka telah meninggalkanku. Aku tertampar, dan pada akhirnya aku mampu menangis. Aku menangis sampai tak bisa lagi berkata-kata. Ditempat, hatiku disayat-sayat. Ada pilu yang tak terucap, tak mampu terungkap, yang membuat hatiku menjadi pengap. Aku butuh udara, tapi terasa sesak dan tak bisa. Mengapa ini terjadi, berakhir seperti ini padahal aku masih mau membuka lembaran baru. Aku ingin Nah tahu tahu aku berjanji berhenti merokok, aku ingin meminta maaf pada Nah dan Lasih atas keegoisanku ini, aku ingin Nah membelikan Lasih susu, aku ingin Lasih tumbuh sehat dan bermasa depan, aku ingin akur dengan Nah, membina rumah tangga yang baik, mencari pekerjaan layak agar dia tak terus-terusan jadi buruh cuci. Aku masih mau menata hidupku sebelum diporak-porandakan seperti ini. Mengapa aku tak diberi kesempatan?siapa yang mau menjawabnya?. Tolong…aku ingin Nah disini dan melihatku berhenti merokok, aku ingin Lasih disini dan meminum susunya. Aku ingin mereka hidup!aku mau mereka disini!. Tangis, hanya tangis yang mewakili segala kecamuk itu. Kata terakhirku pada Nah adalah tamparan atas keegoisanku akannya. Dia membenciku disaat-saat terakhirnya. Dan Lasih, aku adalah ayah yang tak bertanggung jawab dimatanya, aku membiarkannya meminum tajin tiap hari. Tak begitu akrab dengan susu. Ia belum mengenalku dengan baik dan telah pergi sekarang. Mereka meninggalkan suami dan ayah yang baru saja membuat komitmen untuk berubah dan mereka tak pernah tahu itu. Tangis hanya tangis saja…

Aku masih meringkuk saat kudengar mereka mengatakan,

”Sudah tahu penyebab kebakarannya, Pak?”

”Yah, dari sampah yang terbakar lalu merambat ke Rumah Susun. Sepertinya ada yang membuang putung rokok yang masih menyala ke sampah campuran yang berada tepat disamping Rumah Susun dan membuatnya merambat begitu cepat sampai membakar rusun ini.”

”Wah, putung rokok pembawa bencana!”. Mendengarnya, aku memejamkan mataku. Menunduk memandang tanganku yang kasar. Dengan tangan ini, dengan rokok terakhir yang kuhisap, kuakhiri segalanya. Kubunuh Nah dan Lasih. Dan sejak awal seharusnya kudengarkan kata-kata terakhir Nah…”Rokokmu yang akan membunuhku dan Lasih…”

 

 

Malang, 18 Agustus 2009

 

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Masterpiece. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: