Liberalism, Marxism, and Nationalism: Tiga Pendekatan dalam EPI

Ekonomi Politik Internasional adalah suatu kajian interdisipliner yang membahas tentang peranan saling mempengaruhi dan keterikatan antara ekonomi dan politik dalam lingkup internasional meskipun unsur domestik tetap berperan didalamnya. Sebagai suatu kajian interdisipliner, studi EPI dapat berkembang dengan pesat karena memiliki teori-teori dasar yang saling melengkapi bahkan saling memperdebatkan dan mengkritisi. Terdapat tiga teori pokok yang menjadi dasar studi EPI, yaitu Liberalisme, Nasionalisme, dan Marxisme. Ketiga teori dasar inilah yang akan semakin menjelaskan tentang betapa signifikannya hubungan antara ekonomi dan politik.

Kapitalisme adalah salah satu hal esensial dalam sejarah Ekonomi. Dapat dikatakan juga bahwa saat subjek ekonomi diperbincangkan, Kapitalisme pastilah juga merupakan hal yang tak lepas dari pembicaraan tersebut. Tampak sekali bahwa Ekonomi bertalian erat dengan Kapitalisme. Dalam Ekonomi, posisi Kapitalisme ialah tujuan dasar terjadinya aktivitas ekonomi. Inilah yang menyebabkan pentingnya Kapitalisme untuk dipelajari. Untuk itulah pembahasan ini akan dimulai dengan mempelajari tiga Ekonom besar, yaitu Adam Smith, Karl Marx, dan John Maynard Keynes.

 

Adam Smith (1723-1790)

Adam Smith berpendapat bahwa munculnya tindakan dari para aktor ekonomi untuk melaksanakan kegiatan ekonomi ialah didasari oleh alasan sederhana dan mendasar, yaitu “untuk memiliki kondisi yang lebih baik.” Hal ini kemudian yang membuat Smith melontarkan pertanyaan, “how does a market society prevent self-interested, profit-hungry individuals from holding up their fellow citizens for ransom? How can a socially workable arrangement arise from such a dangerously unsocial motivation as self-betterment?” Smith menjawabnya dengan menjelaskan siklus yang terjadi dalam aktivitas ekonomi. Ada mekanisme sentral dalam sistem pasar, yaitu mekanisme kompetisi, yang kemudian menciptakan apa yang disebut discipline on its participant (karena semuanya bersifat kompetitif, maka tiap peserta ativitas ekonomi juga tidak dapat seenaknya—misalnya penjual meninggikan harga—tetapi harus mempertimbangkan banyak hal—contohnya, mempertimbangkan harga yang dipatok para penjual lain terhadap suatu barang. Poin-poin pertimbangan seperti itulah yang pada akhirnya mengkondisikan pasar menuju “socially responsible paths.” Jadi, pasar adalah pelindung pasar itu sendiri. Dua hal esensial dalam sistem ekonomi menurut Smith adalah:

  1. Masyarakat yang kompetitif, para individual yang profit-sentris menjamin persediaan material yang tertib melalui mekanisme pasar self-regulating; 2.
  2. Masyarakat tersebut cenderung menghimpun capital untuk mempertinggi produktivitas dan kekayaan. Smith memandang bahwa sistem pasar menggiring ke keadaan terciptanya filosofi Laissez-faire, mengijinkan sistem untuk mengembangkan kecenderungan alaminya kepada pertumbuhan dan internal order.

(Robert 1987:25-64)

 

Karl Marx (1818-1883)

Marx berpendapat bahwa ekonomi adalah basis atau dasar masyarakat, darimana energinya berasal, dan bahwa kerangka berpikir sosial dal politik adalah “superstruktur” dimana energi-energi ini menggunakan pengaruhnya (Robert 1987:25-64).

 

John Maynard Keynes (1883-1946)

Keynes mengemukakan teori ekonominya bahwa sistem pasar dapat mencapai atau berada dalam posisi “under-employment equilibrium” (kondisi stagnan) walaupun ada para pekerja yang menganggur dan juga peralatan industri. Kata Keynes, tidak ada yang namanya self-correcting property dalam sistem pasar untuk mempertahankan pertumbuhan kapitalisme (Robert 1987:25-64).

           

            Ketiga pemikir tersebut memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap perkembangan teori dalam EPI. Berikut ini akan dibahas teori dasar EPI yang lahir berkat sumbangsih pemikir-pemikir yang telah dibahas sebelumnya.

 

Liberal Perspective

Pada intinya, liberal percaya bahwa hubungan perdagangan dan ekonomi adalah sumber hubungan yang bersifat damai karena mutual benefit perdagangan dan meluasnya interdependensi di antara ekonomi-ekonomi nasional akan mengarah kepada perkembangan hubungan kooperatif (Robert 1987:25-64). Hubungan antara ekonomi dan politik berada pada perekonomian pasar, yang merupakan suatu wilayah yang otonom dari masyarakat untuk berjalan dan mematuhi hukum ekonominya sendiri atau aturan pasar. Aktor utama dari pandangan liberal adalah individu dan perusahaan swasta, dimana pasar cenderung memaksimalkan kepentingan semua individu, rumah tangga dan perusahaan yang berpartisipasi dalam pertukaran pasar. Pertukaran ekonomi bersifat positive sum game dan lebih pada kooperatif. Tujuan ekonomi pandangan ini adalah kesejahteraan maksimum individu dan sosial (Sorensen 1999: 175-216).

 

Nationalist Perspective

Nasionalis berpandangan bahwa perdagangan internasional sifatnya konfliktual, interdependensi ekonomi tidak pernah simetris, justru membawa konflik dan kegelisahan berkepanjangan (Robert 1987:25-64). Perspektive ini juga biasa dikenal dengan teori Merkantilisme. Menurut pandangan Merkantilis, ekonomi adalah alat politik, suatu dasar bagi kekuasaan politik. Ekonomi Politik Internasional lebih kepada arena konflik antara kepentingan nasional yang saling bertentangan, daripada sebagai wilayah kerja sama dan saling menguntungkan. Ekonomi tunduk pada peningkatan kekuatan negara, politik lebih diutamakan dari pada ekonomi atau dalam hal ini negara berperan sebagai aktor utama. Hubungan ekonomi lebih bersifat konfliktual dan zero-sum (keuntungan suatu negara merupakan kerugian negara lain) (Sorensen 1999: 175-216).

 

Marxist Perpective

Kapitalisme merupakan salah satu dari empat poin utama tulisan Marxis. Marxis mengemukakan pandangannya mengenai pandangan umum perkembangan kapitalis, yaitu bahwa mode produksi kapitalis dan tujuannya diatur oleh “economic laws of motion of modern city.” Marxis juga menggolongkan  kapitalisme sebagai ‘private ownership of the means of production and the existence of wage labor’(Robert 1987:25-64). Jadi secara sederhana Marx memandang perekonomian sebagai tempat eksploitasi manusia dan perbedaan kelas. Ia mengambil pendapat zero-sum dari merkantilisme dan memakainya pada hubungan kelas selain hubungan negara. Kaum marxis sepakat dengan kaum merkantilis bahwa politik dan ekonomi sangat berkaitan. Keduanya menolak pandangan kaum liberal tantang ekonomi yang berjalan dengan hukumnya sendiri. Ekonomi adalah alat politik, ekonomi nomor satu dan politik yang ke-dua (Sorensen 1999: 175-216).

Menurut kaum Marxis perekonomian kapitalis didasarkan pada dua kelas sosial yang bertentangan yaitu :

1. Kaum borjuis ( memiliki alat-alat produksi )

2. Kaum proletar ( hanya memiliki kekuatan untuk bekerja yang harus dijual pada kaum borjuis ).

Jadi keuntungan kapitalis berasal dari eksploitasi tenaga kerja ( kaum proletar ). Menurut Marx, pertumbuhan kapitalisme bukanlah sebuah kemunduran atau kenegativan meskipun melakukan eksploitasi buruh. Marx mengatakan kapitalis berarti sebuah kemajuan dalam dua hal yaitu :

1. Kapitalisme menghancurkan hubungan produksi sebelumnya, seperti feodalisme, perbudakan.

2. Kapitalisme membuka jalan bagi revolusi sosial ( alat-alat produksi sebagai kontrol sosial bagi keuntungan kaum proleter ) (Sorensen 1999: 175-216).

 

Adapun perbedaan mendasar dari ketiganya dapat dilihat dari tabel berikut :

Aspek Merkantilisme /Nasionalis Liberalisme Marxisme
Hubungan antara ekonomi dan politik Politik yang menentukan Ekonomi otonom Ekonomi yang menentukan
Aktor utama atau unit analisis Negara – negara Individu – individu Kelas -kelas
Sifat hubungan ekonomi Konfliktual dan zero sum game Kooperatif dan  positive sum game konfliktual
Tujuan ekonomi Kekuatan negara Memaksimalkan kesejahteraan individu Kepentingan kelas

(Sorensen 1999: 175-216)

 

Tetapi, pembahasan tentang Ekonomi Politik Internasional tidak berhenti sampai pada taraf membagi ketiganya dalam sub-sub ciri khasnya masing-masing seperti yang dilakukan oleh Sorensen. Lebih jauh lagi Watson melihat, dengan adanya perbedaan-perbedaan pandangan yang mendasar diantara ketiganya, maka akan terdapat suatu fenomena baru dalam kajian EPI, yaitu trichotomy. Trichotomy yang dimaksud oleh Watson disini adalah apabila ketiga pemikiran itu tidak lagi berada pada ranah saling mempertahankan eksistensinya sendiri, tetapi telah semakin maju dengan mulai berada pada suatu ranah saling mengkritisi dan saling memperdebatkan (versus). Secara sederhana trichotomy dapat diistilahkan dengan liberalisme vs marxisme vs nasionalisme (Watson 2008:29-30).

Jika membahas tentang perdebatan dan saling melawan diantara ketiganya, maka hal substansial yang paling mendasar yang terlebih dahulu harus dipahami adalah tentang ideologi dasar yang membangun ataupun melatarbelakangi ketiga pendekatan ini.

Dalam merkantilisme atau nasionalisme, ideologi yang mendasari keduanya adalah realisme ataupun statism. Hal ini dikarenakan, realisme adalah suatu pemikiran yang memandang tentang pentingnya negara sebagai satu-satunya aktor yang diakui dalam dunia internasional yang anarki. Realisme juga melihat bahwa isu terpenting yang menjadi fokus kajian hanyalah isu-isu high politic dan meremehkan isu-isu low politic seperti ekonomi. Tetapi dengan berkembangnya studi EPI dan munculnya suatu pemikiran dimana melihat bahwa politik dan negara adalah aktor dominan dalam ekonomi-sama dengan realis- maka hal inilah yang mendasari munculnya merkantilisme ataupun nasionalisme (Watson 2008:33-35).

Pandangan Marxis yang melihat roman dunia yang kapitalis, beranggapan bahwa dalam strukturnya, dunia ini mengalami pembagian kelas. Pada dasarnya, ideologi ataupun hal yang mendasari pemikiran Marxis tentang studi EPI adalah ideologi strukturalis, radikal, dan kritical. Sementara untuk pandangan liberalis dalam EPI, yang mendasarinya adalah ideologi liberalisme itu sendiri tetapi dibagi-bagi lagi menjadi beberapa madzab berpikir tokoh-tokohnya, seperti Smithian Liberalism dan Ricardian Liberalism(Watson 2008:36-44).

Dalam aplikasinya, penulis mencoba untuk mengangkat suatu kasus yang nantinya akan dianalisis melalui tiga pendekatan diatas. Misalnya tentang Krisis Global tahun 2008 yang melanda tidak hanya Amerika-meskipun krisis ini dimulai dari Amerika- tetapi juga melanda dunia. Dalam melihat krisis yang terjadi tersebut, kaum Merkantilis akan melihat bahwa pada dasarnya politik harus didahulukan, yaitu dengan masuknya pemerintah untuk ikut mengatur pasar dan menentukan aturan-aturan yang pasti di dalamnya. Pasar tidak boleh berjalan dan mengatur dirinya sendiri, perlu adanya intervensi pemerintah sehingga pemerintah mampu menjaga kestabilan pasar dan menghindarkannya dari krisis. Selain itu, berbekal pada sistem self-help dari ideologi dasar merkantilis, maka negara harus mampu untuk menyelamatkan pasar domestiknya sendiri tanpa perlu menggantungkan keselamatannya pada Amerika, hal ini yang dilakukan oleh Gordon Brown, Perdana Menteri Inggris dalam menyikapi krisis global 2008. Tetapi jika memandang dari segi liberalis, maka krisis global yang melanda dunia ini harus diseleseikan secara bersama-sama oleh semua negara di dunia dengan membuat aksi global. Hal ini terlihat dalam kebijakan yang diambil Amerika Serikat yang lebih menekankan pada kooperasi dan bantuan dana, termanifestasi dalam dihelatnya pertemuan G-20 untuk menyeleseikan krisis global tersebut. Tetapi, jika memandang krisis global 2008 dari posisi pendekatan Marxis, maka berdasar pada ideologi critical-nya, maka Marxist akan menyalahkan sistem struktural yang ada di dunia, dimana akibat negara core mengalami guncangan ekonomi dalam hal ini Amerika, maka negara periphery dan semi-periphery ikut merasakan imbasnya.

 

Referensi :

Gilpin, Robert. 1987. “Three Ideologies of Political Economy”, dalam the Political Economy of International Relations, Princeton: Princeton University Press

Jackson, Robert and G. Sorensen. 1999. “International Political Economy”, dalam Introduction to International Relations, Oxford: Oxford University Press

Watson, Matthew. 2008. “Theoretical Traditions in Global Political Economy”, dalam John Ravenhill, Global Political Economy, Oxford: Oxford University Press

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: