International Political Economy : An Introducing (EPI : Sebuah Perkenalan)

Ekonomi Politik Internasional secara linguistik terdiri dari tiga komponen kata, yaitu ekonomi, politik dan internasional. Hal ini secara nyata merupakan himpunan tiga bahasan pokok yang berdiri sendiri, memiliki pola sendiri dan tentu memiliki sasaran dan tujuan yang berbeda. Tetapi, tiga komponen kata ini dirangkum menjadi satu bahasan interdisipliner yang ternyata dapat menjelaskan suatu hubungan anomali diantaranya, yaitu antara politik, ekonomi dan internasional. Sebelum melangkah lebih jauh dalam pembahasan ekonomi politik internasional maka adalah lebih baik untuk terlebih dahulu memahami ekonomi politik, agar didapatkan suatu gambaran nyata tentang betapa berbedanya ekonomi politik dan ekonomi politik internasional. Selain itu, lebih jauh lagi bahasan ini akan mengarah pada apa yang penulis[1] akan rangkum tentang definisi dari ”state of art” yang nantinya akan semakin memperkuat dan melengkapi tujuan dari penulisan essay ini yaitu menjawab suatu pertanyaan besar tentang ”What is International Political Economy”.

 

SEJARAH EKONOMI POLITIK DAN EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL

Studi mengenai ekonomi politik sedang digemari diantara sejarawan, ekonomi, dan ilmuan sosial karena terjadi apresiasi yang berbeda dalam memandang ekonomi dan politik sebagai suatu kajian ilmu yang terpisah dan berdiri sendiri, tetapi dalam faktanya terjadi simpul saling mempengaruhi diantara keduanya. Sejak 2 abad yang lalu definisi tentang ekonomi politik telah menjadi suatu kajian utama. Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776), ekonomi politik adalah cabang dari ilmu kenegaraan atau legislator, dan mengarahkan pada manajemen kebijakan dalam ekonomi nasional.[2] Adapun menurut John Stuart Mill, ekonomi politik merupakan ilmu yang mengajarkan sebuah negara untuk menjadi kaya.[3] Akhir abad 20 terjadi kontroversi dalam mencari pengertian ekonomi politik. Chicago School mengartikan ekonomi politik sebagai suatu perluasan yang signifikan dari lingkup atau bahan kajian pelajar ekonomi. Ekonomi mengalami perluasan yang besar hingga menjamah lingkup sosial yang difungsikan sebagai tempat mengaplikasikan metode dan model formal dari ekonomi tradisional.[4]

Seiring berjalananya waktu perdebatan tentang pengertian ekonomi politik semakin meluas hingga menyentuh ranah yang lebih komplek yaitu ranah institusi. Dari Neoclassical institusionalism berusaha untuk menjelaskan tentang originalitas, evolusi, dan fungsi dari semua tipe institusi sebagai hasil dari maksimalitas rasional perilaku individu. Penganut pemikiran ini berasumsi bahwa institusi ekonomi merupakan konsekuensi aksi intens dari individu rasional untuk memaksimalkan kepentingan ekonominya. Tetapi pemikiran ini dianggap lemah karena tidak mempertimbangkan faktor nonekonomi dan peran pemerintah. The public choice school juga tertarik untuk mengaplikasikan metode dari ekonomi formal untuk menganalisis perilaku politik dan institusi, terutama dalam organisasi politik yang bebas. Pelajar ini melihat bahwa beberapa market failure disebabkan oleh adanya intervensi pemerintah dalam ekonomi, yang sengaja mengolah pangsa ekonomi untuk kepentingan pribadi. The new political economy lebih tertarik pada determinasi politik terhadap kebijakan ekonomi. Pemikir ini memandang bahwa kebijakan ekonomi adalah hasil dari distribusi politik dan kompetisi antara kekuatan kelompok untuk kepentingan pribadi. Neoclasic percaya bahwa institusi diciptakan untuk menyeleseikan masalah ekonomi dan meningkatkan efisiensinya. Contoh, korporsi bisnis diciptakan untuk mengurangi biaya transaksi. Tetapi public choice menyatakan bahwa institusi pemerintah diciptakan oleh kepentingan yang kuat, kantor publik, politisi, untuk membawa kepentingan pribadi dan menurunkan efisiensi. Contohnya adalah aplikasi tarif atau pajak. Sementara itu political economist menyatakan bahwa institusi dibangun dalam suatu ide tentang jalan ketergantungan dan ekonominya, dan institusi lain adalah hasil dari suatu accident, pilihan random, dan kesempatan yang seringkali tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari proses ekonomi yang rasional.

Tetapi pada akhir abad 20, terjadi lagi tiga perbedaan pemikiran tentang ekonomi politik dengan bahasan atau alasan yang lebih mendalam dan meluas.[5] Ada yang beranggapan bahwa ekonomi politik adalah aplikasi dari semua tipe perilaku manusia, baik secara methodological individualism ataupun model aktor rasional dalam perilaku manusia. Pemikir lain menggunakan teori ekonomi spesifik atau teori untuk menjelaskan perilaku sosial. Tetapi untuk sebagian penulis yang berfikir bahwa sosial dan politik tidak dapat dipisahkan ataupun dikurangi, beranggapan bahwa ekonomi politik adalah interaksi antara kepentingan politik dan ekonomi. Setelah terjadi begitu banyak perdebatan panjang, pada akhirnya terangkum suatu interpretasi tentang ekonomi politik, yaitu ekonomi sebagai sistem sosiopolitik yang disusun oleh aktor ekonomi powerful atau institusi seperti perusahaan besar, persatuan pekerja yang kuat, dan agribisnis yang luas, yang berkompetisi dengan satu sama lain untuk memformulasikan kebijakan pemerintah dalam pajak, tarif, dan banyak hal lainnya sebagai jalan menaikkan kepentingannya masing-masing.

Setelah membahas tentang sejarah terangkumnya ekonomi politik menjadi satu kajian studi, penulis akan melangkah pada sejarah Ekonomi Politik Internasional (EPI). Pada dasarnya mengapa studi EPI ini muncul adalah disebabkan oleh terjadinya suatu ketimpangan antara keikutsertaan ekonomi dan teknik interdependence dari masyarakat nasional (ekonomi-politik) dan berlanjut pada penggolongan sistem politik dunia kedalam negara berdaulat yang independent. Hal ini megangkat isu ketergantuangan baik secara mutual maupun unsimetris karena yang menjadi sentral dalam studi EPI adalah logika antara pasar dan logika negara . Jika menelisik kebelakang, mengapa studi ini berkembang, bisa menarik mundur pada awal tahun 1970an saat awal era post-war[6]. Pada saat itu, telah kentara sekali negara yang dapat berkembang dan mencapai keuntungan dengan negara yang tidak dapat berkembang. Dengan adanya pola stabilitas baru seperti ini, maka tidak dapat dipungkiri sistem saling mempengaruhi dan interdependence menjadi suatu bahasan yang sentral dalam EPI.

 

EPI DAN KAITANNYA DENGAN ”STATE OF ART”

EPI adalah suatu kajian yang tertarik pada suatu fakta bahwa ekonomi dunia memiliki dampak yang patut diperhitungkan dalam kekuatan, nilai, dan otonomi politik dari suatu masyarakat nasional. Yang menjadi fokus dan bahasan dalam EPI adalah peran dari institusi dalam urusan ekonomi, pasar, sifat dari institusi internasional, rezim internasional yang memimpin pasar internasional, dan aktifitas konstitusi ekonomi. Jika dibuat suatu perkiraan, maka yang akan lebih banyak dipelajari dalam EPI adalah tentang negara, MNC, dan aktor powerful lain yang berusaha menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi sifat dari rezim internasional.[7] Pendapat lain menjelaskan bahwa EPI adalah suatu bahasan yang menerangkan tentang suatu subjek yang memiliki fokus khusus pada interrelationship antara kekuatan publik dan privat yang beralokasi pada sumber daya yang langka.[8]

Salah satu tema yang paling dominan dalam mempelajari EPI adalah adanya klasifikasi antara meningkatnya interdependensi ekonomi internasional dan hasrat dari negara untuk menjaga independensi ekonomi dan otonomi politiknya. Pada saat yang sama negara ingin mendapatkan keuntungan dari pasar bebas, investor asing, dan sejenisnya, tetapi dia juga berkeinginan untuk melindungi otonomi politiknya, nilai-nilai kulturalnya dan stuktur sosialnya. Hal inilah yang mengakibatkan suatu negara harus dan senantiasa menggunakan “State of Art”nya dalam menyikapi situasi dalam ranah EPI.

Menurut saya, definisi dari “State of Art” meliputi tiga komponen penting, yaitu

  1. Who gets what, when, and how? (Harold D.Lasswell)[9]
  2. Power dan Distribusi Power
  3. Evolusi kooperasi

Menyikapi interdependensi dan kompleksitas, sebuah negara harus jelas dalam menjawab pertanyaan klasik Who gets what, when, and how?, mengetahui benar tentang kekuatannya, dan kekuatan aktor lain, serta kooperasi apa yang seharusnya diciptakan dalam mensiasati lingkungan internasional. Dalam EPI dan aplikasinya terhadap tiga komponen “State of Art”, terdapat suatu isu yang menjadi perdebatan, yaitu tentang relative gains dan absolute gain. Hal ini timbul karena baik ekonomi dan politik tetap berangkat pada suatu dasar bahasan yang berbeda. Dalam ekonomi seorang ekonom akan selalu mempertimbangkan dua sisi baik absolute maupun relative gain yang dirinya dan aktor lain akan capai, sementara dari sisi pemerintahan (dalam hal ini mewakili politik) seorang pemimpin harus mempertimbangkan tentang perdagangan, distribusi ekonomi dengan investor asing yang juga berasal dari perkembangan ekonomi nasional. Oleh karena itu, disinilah tugas pemerintah untuk juga mengembalikan diri seperti fungsi ekonomi untuk mempertimbangkan absolute dan relative gain yang ingin dicapai negaranya. Hal ini menjadi fokus penting dan banyak diperdebatkan karena pada dasarnya negara sangat peduli terhadap bentuk distrubusi gain tersebut yang mampu mempengaruhi kesejahteraan domestik, kekayaan nasional, dan kekuatan militernya. Hal inilah yang dapat disebut sebagai aplikasi “state of art” dalam EPI.

Sementara itu, dalam menjelaskan tentang komponen kooperasi, terdapat suatu bentuk hubungan yang didalamnya terdapat prinsip, norma, aturan, dan prosedur pembuatan keputusan, baik secara implisit maupun eksplisit, yang wadah atau bentuk hubungan tipe ini dikenal dengan rezim internasional. Menurut Koehane internasional rezim dibutuhkan oleh dunia ekonomi dan dibutuhkan untuk menfasilitasi keefektifan operasional dari ekonomi internasional. Dengan adanya rezim internasional maka akan mempermudah menyatukan komponen kepentingan baik secara kooperasi maupun kolaborasi, terutama apabila suatu negara berada pada keadaan didominasi oleh hegemon.[10] Komponen power, dalam hal ini juga merupakan komponen yang sangat penting dalam menentukan tipe hubungan, karena berkaitan erat dengan kapasitas suatu aktor untuk mempengaruhi perilaku dari aktor lain, seperti contohnya pada Rezim financial internasional. Karenanya, untuk mengemas tiga komponen “State of Art”, dalam studi EPI, secara umum membahas tentang tiga prinsip pendekatan teoritik yang dijadikan terminologi, yaitu, Liberalisme, Nationalisme, dan Marxisme. Ketiga pendekatan ini, dapat disebut dengan tiga pendekatan major teori yang dapat mengemas “State of Art” secara spesifikasi dan determinan.

 

OPINI:

Dalam memahami EPI, menurut saya senantiasa tidak dapat melepaskannya dengan ekonomi politik, dikarenakan adanya suatu hubungan simbiosis beda ranah yang mempengaruhi suatu institusi. Saya telah membuat bagan sedemikian rupa pada halaman selanjutnya untuk menjelaskan perbedaan dari ekonomi politik dan EPI. Dalam menjelaskannya saya ingin menggunakan suatu contoh yaitu Marshall Plan pada 1947[11]. Secara politik Amerika ketakutan dengan tersebarnya faham komunisme yang melanda Eropa, sehingga menggunakan taktik ekonomi berupa Marshall Plan untuk digunakan membendung persebaran komunisme. Akhirnya Amerika mengeluarkan kebijakan Marshall Plan yang merupakan kebijakan untuk memberikan bantuan financial pada negara-negara di Eropa. Kebijakan ekonomi AS ini, sertamerta mengancam kekuatan politik Uni Soviet di Eropa,  yang pada akhirnya membuat suatu kebijakan pembentukan Kominform sebagai kebijakan tandingan Marshal Plan yang juga bergerak dalam bidang ekonomi dengan memberikan bantuan finansial pada negara-negara Eropa. Dari sini dapat dengan mudah dilihat betapa ekonomi dan politik merupakan dua kajian yang memang berdiri sendiri tapi saling mempengaruhi dan tak terpisahkan.

 

 

 

Referensi :

Deighton, Anne,n.d.The Cold War in Europe, 1945-1947:Three Approaches.s.l

Gilpin,Robert.2001.”The Nature of Political Economy”,dalam Global Political Economy: Understanding the International Economic Order.Princeton:Princeton University Press,           pp.25-45

Gilpin,Robert.2001.”The Study of International Political Economy”,dalam Global Political             Economy:Understanding the International Economic Order. Princeton:Princeton    University Press, pp.77-102

Ravenhill,John.2008.”The Study of Global Political Economy”, dalam John Ravenhill, Global `    Political Economy. Oxford:Oxford University Press, pp.18-25

 

 

 

 

 

 

 


[1] Mira Dia Lazuba /HI’08/070810538

[2] Gilpin, Robert.2001.”The Nature of Political Economy”dalam Global Political Economy:Understanding the International Economic Order.Priceton:Priceton University Press, pp. 25

[3] Ibid

[4] Ibid, 26

[5] Ibid, 39

[6] Ravenhill,Jhon.2008.”The Study of Global Political Economy”, dalam Jhon Ravenhill, Global Political Economy. Oxford:Oxford University Press,pp.18

[7] Gilpin,Robert.2001.”The Study of International Political Economy”, dalam Global Political Economy:Understanding the International Economic Order.Priceton:Priceton University Press, pp. 77-78

[8] Ravenhill,Jhon.2008.”The Study of Global Political Economy”, dalam Jhon Ravenhill, Global Political Economy. Oxford:Oxford University Press,pp.18

[9] Ibid, 18

[10] Gilpin,Robert.2001.”The Study of International Political Economy”, dalam Global Political Economy:Understanding the International Economic Order.Priceton:Priceton University Press, pp. 84

[11] Deighton,Anne.n.d.The Cold War in Europe, 1945-1947:Three Approaches.s.l

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: