GREAT DEPRESSION, KEYNESINISM, DAN FORDISM : KRISIS DAN REGULASI DALAM EPI

Depresi Ekonomi 1929 adalah suatu keadaan dimana menurunnya tingkat suku bunga dan harga saham secara drastis yang mengakibatkan timbulnya kekacauan ekonomi di seluruh dunia. Depresi ini merupakan depresi terparah sepanjang masa yang berawal dari Amerika Serikat. Bermula di tahun 1925 dan 1927, The Fed menurunkan suku bunga untuk mendukung Bank of England dalam menerapkan standar emas. Pada saat yang bersamaan, bursa efek sedang bergairah. Akibatnya, jutaan warga AS meminjam uang di bank dan kemudian menginvestasikannya di bursa saham. Saat itulah terjadi ledakan spekulatif yang menggiring terciptanya gelembung ekonomi atau biasa dikenal economic bubble. Harga-harga saham terus meningkat dan mencapai puncaknya tanggal 3 September 1929. Namun, Kamis, 24 Oktober 1929, harga saham mulai terjun bebas. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Kamis Hitam” (Black Thursday). Beberapa langkah coba ditempuh oleh pimpinan bank-bank terkemuka, diantaranya dengan membeli saham-saham unggulan untuk mengangkat sentimen positif. Namun sayangnya, hal itu tetap tidak mampu mendongkrak pasar. Minggu berikutnya terjadi penjualan saham masal dan mencapai puncaknya pada Selasa, 29 Oktober 1929, ketika pasar mengalami kerugian sebesar 14 miliar dolar AS. Hari itu dikenang sebagai “Selasa Hitam” (Black Tuesday). Total kerugian dalam minggu itu mencapai 30 miliar dolar AS. Runtuhnya lantai bursa menyebabkan banyak bank gulung tikar. Awal tahun 1930, ada 60 bank gulung tikar, disusul 254 bank di bulan November, dan 344 bank di bulan Desember.[1]

Dengan kekacauan yang sedemikian rupa, para pengamat ekonomi sudah tidak mampu lagi bertahan untuk percaya bahwa pasar akan dapat menyembuhkan dan membenahi dirinya sendiri seperti apa yang selama ini dipercaya kaum liberal klasik dari pemikiran Adam Smith. Pemerintah Amerika mulai turun tangan untuk ikut membenahi kekacauan pasar dengan melakukan proteksi perdagangan. Tetapi hal ini tidak dapat berjalan lancar, malah mengakibatkan deflasi, likuidasi dan pengangguran meningkat pesat. Pemerintah tidak mampu berbuat banyak karena berbenturan dengan sistem keuangan dengan standarisasi emas. Emas dianggap memperlambat respon pemerintah untuk menanggulangi krisis. Karenanya timbul wacana untuk menghapuskan standarisasi mata uang berdasarkan pada emas. Beberapa negara mulai melakukannya, terutama Inggris yang mampu menginspirasi negara lain untuk melepasakan diri dari standarisasi emas. Hingga akhirnya Amerika-pun melepaskan diri dari standarisasi emas dan mampu meningkatkan suplai uang, menaikkan harga, dan membawa perekonomian kembali pada jalurnya. Hal ini ternyata mampu menggerakkan perekonomian kembali, dan membawa dunia pada akhir dari masa-masa depresi.[2]

Melihat Depresi Ekonomi yang terjadi dalam rentang tahun 1929 hingga 1939, maka menurut penulis dapat dianalis sebab terjadinya dan usaha pemulihannya. Kedua hal ini ternyata di dasari oleh dua pemikiran ekonomi yang saling bertolak belakang yaitu Fordism dan Keynesianism. Berikut ini, penulis akan berusaha untuk menjelaskan tentang kedua pemikiran tersebut yang merupakan awal timbulnya depresi ekonomi oleh Fordisme dan penanggulangannya oleh Keynesianism.

 

Fordism dan Great Depression

            Fordism merupakan filosofi produksi yang berusaha untuk mencapai produktifitas tinggi dengan menstandarisasi output, melalui penggunaan jalan perakitan, dan memisahkan pekerja ke dalam tugas-tugas keterampilan yang kecil dan spesifik. Fordism mengkombinasikan mesin dan efisiensi pekerja menjadi satu unit dan menekankan pada minimalisir harga daripada maksimalisasi keuntungan. Model ini merujuk pada pelopor automobile Amerika, Henry Ford (1863-1947).[3] Produksi masal dimulai di Detroit pada 1914 saat Henry Ford menemukan bahwa perubahan jalur perakitan menggunakan bagian interchangeable dapat secara radikal mengurangi harga dalam membuat mobil. Dia mampu menjual 18 mobil T Fords, dengan harga yang semula $600 menjadi $250 selama 15 tahun. Tetapi hal ini berdampak pada ketidaksenangan pekerja dengan tingginya perputaran.[4] Fordism menurut Gramsci, menghadapi banyak resistensi intelektual dan moral, serta melakukan bentuk kekejaman dan akal busuk yang tersembunyi atau dengan kata lain merupakan pemaksaan yang ekstrem.[5] Pekerja mendapatkan tekanan fisik, tuntutan konsentrasi tingkat tinggi dan menemui kejenuhan yang luar biasa. Tetapi, pekerja mendapatkan upah yang tinggi dan penambahan upah setiap harinya yang hal ini mengakibatkan meningkatnya tingkat konsumsi.[6]

Pada dasarnya Fordism memiliki lima prinsip. Pertama, membagi pekerjaan kepada unit-unit kecil, yang memiliki kualitas tinggi dalam pekerjaannya sehingga lebih efisien. Kedua, apabila setiap pekerja melakukan satu pekerjaan dalam jalur perakitan, maka akan mengurangi waktu yang diperlukan. Ketiga, semakin dekat seorang pekerja dengan pekerjaannya maka semakin mudah untuk mengembangkan alat-alat spesial untuk membantu pekerjaannya. Keempat, pekerja dengan mudah dapat diganti dengan pekerja baru yang memiliki bayaran lebih rendah. Kelima, di Amerika buruh terampil sangat jarang dan mahal sehingga diambil kebijakan untuk meminimalisir penggunaan pekerja terampil. Kelima prinsip ini ternyata hanya mampu bertahan hingga tahun 1930. Di saat pasar Amerika mengalami puncak kejenuhan, dan Ford yang tidak memiliki rencana inovasi lanjutan ternyata tidak mampu mempertahankan diri.[7]

Menurut analisa penulis, terjadinya stagnansi perusahaan Ford yang tidak mampu berinovasi pada produksinya, produksi yang berlebihan, tingginya kejenuhan konsumsi pasar dan tenaga kerja, serta sistem kredit yang menimbulkan buble economic memberikan sumbangsih yang besar pada jatuhnya perekonomian Amerika saat Great Depression di tahun 1929-1939.

 

Keynesianism dan Great Depression

            Keynesianisme adalah model perkembangan ekonomi yang merupakan hasil pemikiran dari Jhon Maynard Keynes yang mengamati perkembangan pasar setelah Perang Dunia I. Menurut Keynes, perkembangan model pasar kapitalis mengalami suatu penderitaan dikarenakan banguanan tendensi efektifitas atas tingginya permintaan akan barang tetapi tidak cukupnya kemampuan untuk memproduksi, yang pada akhirnya menarik investasi untuk bergabung dan menjadi pusat akumulasi sistem kapital. Keynes mengamati terjadinya Great Depression tahun 1929 yang mengakibatkan banyak bank bangkrut, pasar collapse, dan meningkatnya jumlah pengangguran. Melihat hal ini, Keynes memberikan ide tentang perlu adanya kebijaksanaan konvensional dari atas ke bawah dimana pemerintah memotong anggaran belanjanya saat krisis melanda dan mengalokasikannya untuk membenahi ancaman kemerosotan ekonomi. Saat krisis melanda, dimana investasi tidak dapat berjalan, maka pemerintah mengambil peranan penting untuk menjadi investor dalam upaya penyelamatan pasar yang diharapkan mampu untuk menciptakan ”balance” antara konsumsi, produksi dan tabungan. Jadi, pada intinya, Keynes melihat bahwa perlu adanya intervensi pemeritah dalam pasar untuk menjaga kestabilan atau ”balance” antara rangkaian investasi dan konsumsi.[8]

Hal ini menurut analisis penulis merupakan faktor penyelamat dunia dari terpaan Great Depression tahun 1929-1939. Penulis setuju dengan pemikiran Keynes yang mengkritik habis-habisan pemikiran Adam Smith tentang invisible hand, bahwa pasar dapat berjalan sendiri, memiliki aturannya sendiri, dan membenahi dirinya sendiri. Berbeda dengan Adam Smith, Keynesian melihat bahwa pasar tidak dapat dengan sendirinya melakukan pembenahan, terbukti dengan ambruknya Fordism. Keynes melihat bahwa agar tercipta suatu kestabilan dalam pasar maka intervensi pemerintah adalah hal yang sangat diperlukan untuk menciptakan ”balance” antara konsumsi, produksi, investasi, dan tabungan. Great Depression 1929 adalah buktinya. Pasar runtuh, masyrakat hidup dibawah kemiskinan, pengangguran dimana-mana, dan perekonomi tidak dapat berjalan. Melihat hal ini, pemerintah tidak dapat tinggal diam dan perlu mengambil langkah pasti dengan mengeluarkan kebijakan yaitu keluar dari standarisasi emas dan menyediakan suplai uang agar perekonomian kembali dapat dijalankan. Hal inilah yang penulis anggap sebagai penyelamat Great Depression 1929.

 

REFERENSI

Abernathy, William 1978.The Productivity Dilemma: Roadblock to Innovation in the Automobile Industry. Baltimore: Johns Hopkins University Press

Brown, Michael B.1995.Models in Political Economy.London: Penguin Books

David, Paul.1990.American Economic Review.Toronto: Oxford University Press

Frieden, Jeffrey A. 2006.Global Capitalism: Its Fall and Rise in the Twentieth Century, New York:         W.W. Norton & Co. Inc

Gramsci, Antonio.1971. Selections from the Prison Notebooks, London: Lawrence and Wishart

Anon.2009.Depresi Besar Tahun1929,Bagian-1.[Online].

Dalam Tradinx [http://www.tradinx.de/id/02/die-weltwirtschaftskrise-im-jahre-1929-teil-1-           ursachen/]

Diakses pada 17 April 2010, pukul 22.00

Anon.2010.Fordism.[Online].

Dalam Business Dictionary [http://www.businessdictionary.com/definition/Fordism.html]             Diakses pada 18 April 2010, pukul 10.00

Anon.2010.Rise and Fall of Mass Production:Fordism.[Online].

Dalam BBC MMX                 [http://news.bbc.co.uk/2/shared/spl/hi/picture_gallery/07/business_rise_and_fall_of_mass_p            roduction/html/1.stm]

Diakses pada 18 April 2010

 

 

 


[1] Anon.2009.Depresi Besar Tahun1929,Bagian-1.[Online].Dalam Tradinx [http://www.tradinx.de/id/02/die-weltwirtschaftskrise-im-jahre-1929-teil-1-ursachen/] diakses pada 17 April 2010.

[2] Frieden, Jeffrey A. 2006. “The Established Order Collapses” dalam Global Capitalism: Its Fall and Rise in the Twentieth Century, New York: W.W. Norton & Co. Inc., pp. 173-194

[3] Anon.2010.Fordism.[Online].Dalam Business Dictionary [http://www.businessdictionary.com/definition/Fordism.html] diakses pada 18 April 2010

[4] Anon.2010.Rise and Fall of Mass Production:Fordism.[Online].Dalam BBC MMX [http://news.bbc.co.uk/2/shared/spl/hi/picture_gallery/07/business_rise_and_fall_of_mass_production/html/1.stm] diakses pada 18 April 2010

[5] Gramsci, Antonio. 1971. “Americanism and Fordism”, dalam Selections from the Prison Notebooks, London: Lawrence and Wishart, pp. 277-318

[6] David, Paul.1990.”The Dynamo and the Computer: An Historical Perspective on the Modern Productivity Paradox”dalam American Economic Review.Toronto: Oxford University Press, hal. 355-361.

[7] Abernathy, William 1978.The Productivity Dilemma: Roadblock to Innovation in the Automobile Industry. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

[8] Brown, Michael B. 1995. “The Keynesian Model”, dalam Models in Political Economy, London: Penguin Books, pp. 55-71

 

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Daily. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: