Globalisasi Produksi

Kehadiran Multinational Corporation MNC) ditengah arus globalisasi semakin mempertegas konsepsi sistem ekonomi global. Didukung dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi, MNC berkembang pesat baik di negara asal maupun di negara penerima. Tercatat di tahun 2005 terdapat 77.000 induk perusahaan dengan 770.000 anak perusahaan di berbagai negara. MNC yang bergerak di berbagai bidang, baik jasa maupun layanan, telah meningkatkan akumulasi jumlah produksi dengan fasilitas produksi yang juga meningkat dan tersebar di berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan dalam pasar-pasar setempat. Peningkatan jumlah produksi berarti juga peningkatan Gross Domestik Produk (GDP). GDP merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran suatu negara (Thun,2008 :347).

Pertumbuhan MNC dengan peningkatan jumlah fasilitas produksi yang tersebar di berbagai negara tak terlepas dari kehadiran Foreign Direct Investment (FDI). Dengan membangun fasilitas industri baru, MNC dapat memenuhi permintaan pasar setempat dan menghindari jalur perdagangan internasional yang dapat menjadi tidak efektif dan tidak mengguntungkan karena trade barrier yang tinggi dari pemerintah sebagai usaha protectionism. Unsur politik sangat terlihat dalam kebijakan protectionism.  Menurut Eric Thun, FDI digunakan untuk mencapai comparative advantages dari pada ekspansi secara geografi. Kegiatan research dan development masih berpusat di perusahaan induk, sementara operasional produksi dilaksanakan di fasilitas produksi yang tersebar di berbagai tempat (Thun,2008 :348). Konsep FDI sebenarnya bukan hal yang baru dalam sistem ekonomi. Trading company seperti VOC dimasa penjajahan di Asia dan Afrika telah menggunakan investasi untuk memperoleh bahan mentah di wilayah-wilayah baru.

Eric Thun menyebutkan bahwa FDI oleh MNC sebagian besar terkonsentrasi di Eropa. Raksasa MNC berkembang pesat di Eropa memenuhi kebutuhan pasar Eropa (Thun,2008 :349). Menurut penulis, hal ini terjadi karena kondisi regional dan domestik di Asia dan Afrika yang tidak kondusif bagi masuknya investasi asing. Kondisi keamanan salah satunya dapat menjadi salah satu pertimbangan investor untuk memberikan investasi di negara-negara Asia dan Afrika. Dengan kondisi domestik yang tidak stabil di Pakistan, dan konflik agama berkepanjang dengan India, Investor sulit untuk meyakini penanaman investasi di Pakistan akan menguntungkan. Merger dan akuisisi juga merupakan bentuk manifestasi FDI. Dari pada membangun fasilitas produksi baru, MNC dapat melakukan merger dan akuisisi, jika dinilai strategi dan menguntungkan.

FDI bukan satu-satunya sumber investasi modal asing. Selain FDI juga terdapat portfolio flow, yang memberikan dana investasi dari institusi seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun, pinjaman dari bank swasta, dan dari program pinjaman modal dari negara atau badan keuangan lain. FDI juga dapat digunakan untuk sebagai indikator untuk menghitung pertumbuhan produksi global oleh MNC. Peningkatan angka FDI berarti peningkatan angka produksi global. Namun FDI tidak mampu menghitung produksi melalui outsourcing (Thun,2008 :350).

Kehadiran fasilitas industri MNC di negara penerima mampu membawa arus perkembangan teknologi dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar sehingga mampu membantu mengatasi angka pengganguran, serta mengembangkan skill managerial kepada masyarakat setempat. Dilain pihak package of benenefits kehadiran MNC juga menimbulkan kekhawatiran bagi kehidupan masyarakat di negara penerima. Ketergantungan yang ditimbulkan oleh MNC kepada pekerja lokal memunculkan ketakutan jika sewaktu-waktu fasilitas industri MNC ditutup, masyarakat akan kehilanggan pekerjaannya dan kembali menjadi pengangguran.

MNC yang mempekerjakan masyarakat lokal juga menimbulkan pemikiran skeptis bahwa MNC berusaha mengeksploitasi sumber daya manusia setempat, apalagi jika MNC tidak memberikan gaji yang selayaknya bagi pekerja. Pelanggaran nilai-nilai kebudayaan dan kepercayaan setempat oleh standarisasi industri dari perusahaan induk juga menjadi salah satu ketakutan masyarakat. Misalnya di Indonesia, Jumat adalah hari kerja yang pendek karena sebagian besar masyarakat Indonesia yang muslim harus melaksanakan ibadah sholat Jumat. Sedangkan perusahaan induk MNC di Amerika Serikat hari jumat adalah hari kerja biasa yang tidak memberikan waktu lebih untuk pekerjanya dan upaya untuk menegakkan standarisasi tersebut ke seluruh anak perusahaan yang tersebar di berbagai negara dapat memberikan tantangan bagi negara penerima. Sementara bagi negara tempat MNC berasal juga timbul kekhawatiran karena pergerakan arus pekerjaan, teknologi, dan profit ke negara-negara lain yang lebih besar dari yang terjadi di negaranya. Misalnya investasi perusahaan sepatu Nike untuk membuka fasilitas produksi di Vietnam akan membuka lapangan kerja baru di Vietnam, padahal di Amerika Serikat juga terdapat pengganguran yang membutuhkan pekerjaan. Kekhawatiran negara di sebut efek hollowing out.

            Pertumbuhan pesat produksi global tidak terlepas dari peran institusi-institusi sistem Bretton Woods. General Agreement on Tariffs and Treaty (GATT), World Bank, dan International Monetary Fund (IMF) sebagai institusi keuangan perdagangan internasional di masa Bretton Woods yang berhasil membuka pintu perdagangan dan perekonomian internasional ke arah yang lebih liberal. Melalui investasi dan pinjaman dana dari institusi-institusi tersebut, perekonomian dan perindustrian berkembang hingga saat ini. Dari level negara, globalisasi produksi sebenarnya tidak terlepaskan dari unsure politik. Di negara-negara berkembang, pemerintah mengambil peran penting dalam menstimulasi volume perdaganan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan di negara-negara berkembang, pemerintah berusaha menggunakan globalisasi produksi sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi domestik. Asia Timur dari sekumpulan negara-negara berkembang yang saat ini menjadi regional dengan perekonomian yang berkembang sangat pesat. Pemerintahan Korea, Jepang, dan Taiwan misalnya mampu mengeluarkan kebijakan industri dengan memanfaatkan arus investasi dan teknologi untuk mengembangkan sektor industri. Hingga saat ini perekonomian berbasis industri teknologi telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ekonomi di Asia Timur (Thun,2008 :351).

Sedangkan perkembangan tekonologi di era globalisasi mampu mempermudah proses produksi global. Jika sebelumnya teknologi transportasi menghabiskan biaya yang besar untuk memindahkan barang produksi dari satu tempat ke tempat lain, kehadiran standarisasi kontainer dan penggunaan pesawat komersial mampu memotong biaya transportasi yang tinggi serta mempercepat arus perdagangan barang. Perkembangan teknologi terutama di bidang elektronik menghasilkan modular production yang kemudian diadopsi oleh sebagian perusahaan komputer dan elektronik lain seperti IBM. Modular production mampu menghasilkan sistem produksi alat elektronik yang terdiri dari modul-modul berbeda namun tetap dapat terintegrasi. Produksi ini mampu menjadikan produk elektronik compatible dan digunakan oleh masyarakat luas.

Global Value Chain

            Globalisasi produksi oleh perkembangan pesat MNC menghadirkan konsepsi value chain. Konsep tersebut menjawab pertanyaan apa, kapan, dan bagaimana dalam ekonomi global. Value chain meliputi keseluruhan aktifitas yang melibatkan kombinasi teknologi, pekerja, dan bahan mentah yang kemudian diolah, dipasarkan, dan didistribusikan. Aktivitas dalam value chain, perlu untuk dikoordinasikan dalam suatu kesatuan terintegrasi yang kemudian disebut governance serta lokasi aktifitas value chain dilaksanakan. Teknologi telah membawa proses produksi, pemasaran, dan distribusi yang tak lagi dibatasi oleh jarak kearah yang lebih global. Jika memang perusahaan-perusahaan domestik telah mampu memenuhi kebutuhan pasar, makan MNC tidak akan berkembang sepesat sekarang.

Dalam unsure Governance, teknologi menimbulkan dampak penting dalam globalisasi ekonomi. Teknologi meningkatkan kemampuan firma-firma untuk memfragmentasi ‘value chain’ atau rantai nilai. Koordinasi bagian-bagian yang terpisah tersebut dapat dicapai dengan cara governance. Governance berkaitan atau mengarah pada cara dan alat apapun yang mengkoordinir aktivitas-aktivitas yang saling bergantung (Jessop 1998: 29). Pilihan-pilihan Governance dalam Global Value Chain (GVC), jika diandaikan maka dapat digambarkan seperti spektrum. Di salah satu ujungnya adalah hubungan pasar murni dengan firma-firma asing (contohnya arm’s-length relationships) dan di ujung lainnya adalah control yang bersifat hirarki operasi-operasi asing (contohnya FDI). Ada dua pilihan governance, yaitu arm’s length relationships dan FDI . Dunning berpendapat bahwa sebuah firma akan menciptakan operasi di luar negaranya ketika biaya operasional pasar internal negara target (hierarchiechal co-ordination) lebih rendah dibanding menggunakan pasar arm’s length relationship. Ada keuntungan-keuntungan spesifik atau ‘specific advantages’ (Dunning 1981) yang dipikirkan firma dalam menentukan cara yang pertama dan selanjutnya, antara lain: merek dagang, proses manufaktur atau teknologi tertentu, skala-skala ekonomi, dan kekuatan pemasaran. Gereffi berpendapat bahwa organisasi GVC akan bervariasi menurut kompleksitas transaksi-transaksi antar-firma, tingkat kompleksitas tersebut dapat disusun, dan area dimana para supplier mendapatkan kapabilitas yang dibutuhkan  untuk memenuhi persyaratan para pembeli.

Governance atau pengaturan value chains, kritis karena merupakan penentu penting mengenai siapa yang memperoleh keuntungan-keuntungan globalisasi yang dibagi ke dalam tiga segi. Pertama, distribusi profit diantara firma-firma ditentukan untuk area luas rintangan-rintangan untuk masuk (Kaplinsky 2000:127). Kedua, kemampuan-kemampuan yang dapat dikuasai firma-firma dalam chain. Posisi Governance tehadap value chain adalah penentu penting prospek peningkatan mutu. Ketiga, governance terhadap GVC memberi wawasan kepada tingkat pengaruh yang  dimiliki aktor luar—entah pemerintah, IO, ataupun NGO—untuk mempengaruhi perilaku firma-firma.

Aspek yang kedua adalah Lokasi. Cara lokasi mengarahkan dan menentukan produksi global adalah mempertimbangkan keuntungan-keuntungan yang firma harapkan di lokasi yang menjadi target—termasuk SDA, pasar-pasar baru, tenaga kerja murah, juga factor-faktor seperti budaya, bahasa, kondisi dan sistem politik lokasi yg bersangkutan.

Jadi, faktor penentuan governance dan lokasi thd GVC penting dan harus dipertimbangkan dengan tepat karena nantinya akan berdampak besar terhadap baik future profit maupun keseluruhan proses-proses dan perilaku firma dalam melakukan kegiatan ekonomi.

 

Cina sebagai World’s Factory

Kenaikan Cina sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia tidak dapat dipisahkan dengan globalisasi manufacture-nya. Cina memiliki pengaruh yang signifikan dalam mempengaruhi global price of input yang menjadi bahan bakar dari pertumbuhan ekonominya dan global price of output melalui manufakturnya. Tetapi kenaikan ekonomi China di bidang manufakturnya malah berimbas buruk pada negara-negara lain, seperti Amerika (Thun,2008 :362).

Cina mampu disebut sebagai world’s factory disebabkan oleh begitu banyaknya pabrik-pabrik dunia yang beroperasi di Cina. Begitu banyak perusahaan asing yang berinvestasi dalam operasional manufaktur Cina mengindikasikan besarnya kekuatan perusahaan milik Cina. Cina juga merupakan satu-satunya negara yang memimpin berjalannya FDI global. FDI menjadi unsur penting dalam manufaktur cina. Melalui FDI dan perkembangan manufaktur Cina, banyak perusahaan multinasional yang mencapai keuntungan maksimalnya dan berefek pada semakin memperbanyak investasi ke Cina. Disisi lain, konsumen juga diuntungkan dengan harga murah barang-barang yang dieksport dari Cina (Thun,2008 :363).

Pola dari investasi asing di Cina merefleksikan kekompleksan interaksi berbagai level lokasi di dalam operasional perusahaan multinasional dan usaha dari pemerintah dan perusahaan untuk menyeimbangkan perhatian atas efisiensi, equity, dan kedaulatan. Jalannya investasi dipimpin oleh integrasi ekonomi nasional dalam region. Lebih akurat dengan menyebutkan bahwa Cina merupakan regional production base dibandingkan national production base. Dengan reformasi ekonomi yang dilakukan Cina, telah membuka begitu banyak peluang investasi di daerah-daerah istimewanya seperti Taiwan dan Hongkong yang mengikutsertakan partisipasi dari negara se-region dengan Cina yaitu Jepang dan Korea untuk ikut berpartisipasi. Negara-negara ini tidak mengirimkan keseluruhan industrinya ke Cina, tetapi lebih kepada transfer pekerja dan import hal-hal yang mahal di negara asal dan disediakan dengan harga murah oleh Cina. Jadi, formasi dari jaringan regional ini lebih dikarenakan oleh dua faktor yaitu  tingginya harga di dalam negeri dan peranan fasilitas kemajuan teknologi negara region. Asia Timur telah menjadi regional ekonomi dengan network manufaktur yang telah melewati batas-batas nasional (Thun,2008 :364-365).

Dalam lingkup domestik Cina  terdapat apa yang disebut dengan Local economy cluster. Local economy cluster adalah hal yang luar biasa penting di Cina karena berhubungan dengan investasi asing. Perusahaan yang menerapkan particular township dan villages selalu melakukan spesialisasi pada produk-produk tertentu dan lalu melalui produk tersebut mampu mendominasi pasar dunia. Formasi dari local economy cluster, merupakan hasil dari tendensi alamiah dimana pada satu sisi perusahaan mencari pengelompokan ekonomi tetapi disisi lain kebijakan pemerintah juga bermain sebagai aktor kunci. Hal ini terjadi setelah reformasi di Cina, dimana pemerintah pusat memberikan otonomi pada daerah untuk membuat kebijakan ekonominya sendiri dan memberikan pada daerah insentif fiskal untuk meraih kesuksesannya (Thun,2008 :365).

Tekanan kompetisi yang dibawa oleh integrasi regional Asia Timur, kemungkinan untuk mengakses ekonomi pada level world-class dan kemampuan inexpensive manufacturing di berbagai bidang industri Cina telah menciptakan tekanan yang kuat pada national ’varieties of capitalism’ dari perusahaan multinasional yang berinvestasi di Cina. Hal ini lebih menekankan pada karakteristik dari barang yang diciptakan oleh negara-negara regional yang membuat perusahaan multinasional kehilangan karakteristik dari negara aslinya. Di Cina, daya tahan pendekatan nasional untuk investasi dan intensitas tekanan dalam pendekatan ini merupakan hal yang visible dalam hal investasi Jepang. Perusahaan-perusahaan Jepang menginginkan harga yang lebih murah dan mengakalinya melalui konsep regional hirarki yaitu produksi suatu produk dipindahkan ke Cina tetapi komponen inti dan desainnya tetap berasal dari Jepang. Hal ini disebabkan oleh fokus eksport yang menuntut harga murah dengan kualitas tetap bagus. Jepang melakukan pembagian wilayah investasinya di Cina menjadi daerah timur dan daerah selatan. Terdapat elemen pendorong dan penarik untuk hal tersebut. Faktor pendorongnya adalah dibutuhkannya pemotongan harga. Investasi Jepang di Cina difokuskan pada meningkatnya akses pertumbuhan domestic marketplace dan juga perusahaan Jepang harus berkompetisi dengan perusahaan multinasional yang semakin meluaskan manufakturnya di Cina karena harga yang lebih murah dengan target masyarakat yang rendah dan menengah. Hal ini jelas berbeda jika dibandingkan dengan Amerika yang lebih menekankan pada high end service. Pada dasarnya, alasan utama mengapa Jepang berinvestasi di Cina dan membaginya menjadi polar timur dan selatan adalah disebabkan oleh kedua polar tersebut merupakan daerah dengan komponen perusahaan yang paling kuat. Di daerah-daerah tersebut terdapat perusahaan-perusahaan tersukses milik Cina, Taiwan dan Korea yang akan memberikan sumbangsih pada semakin murahnya barang yang dihasilkan dengan menjaga mutu serta kualitas barang (Thun,2008 : 366-367).

Banyaknya FDI yang ada di Cina telah menimbulkan suara-suara kontroversial. Sebagian memberikan kritik bahwa dengan eksisnya investasi asing akan berefek negatif bagi perusahaan-perusahaan domestik Cina. Keterbukaan bukan hal yang secara menyeluruh buruk tetapi perlu juga mempertimbangkan aspek penting proteksi atas industri nasional. Ditakutkan akan adanya diskriminasi antara perusahaan domestik dan perusahaan asing yang akan berkontribusi pada tidak berkembangnya industri dalam negeri (Thun,2008 :367-368). Menurut penulis hal ini menjadi wajar terjadi karena mempertimbangkan aspek sistem kapitalisme global yang dianut dunia dewasa ini yang rentan dengan krisis. Analisis penulis adalah bahwasanya dengan menitik beratkan pada sektor investasi asing ditakutkan apabila sesuatu yang tidak diinginkan seperti krisis terjadi maka perekonomian Cina akan dengan mudah ambruk. Saat krisis terjadi, maka akan banyak investor asing yang menarik investasinya atau malah mengalami kebangkrutan. Hal ini jelas rentan melanda negara dengan kepemilikan FDI terbanyak di dunia yaitu Cina. Karenanya, memperhatikan sektor ekonomi dan industri domestik menjadi penting dalam hal ini. Pengembangan harus dilakukan secara dua arah baik lingkup domestik maupun global. Pengalaman telah mengajarkan bahwa pertahanan industri domestik yang kuatlah yang mampu menyelamatkan suatu negara dari krisis dan kembali bangkit untuk membenahi diri. Hal ini dapat dicontohkan melalui krisis tahun 1998 yang melanda Indonesia, dimana melalui penguatan sektor industri domestik dalam hal ini UKM, Indonesia mampu membenahi diri dan bangkit kembali dari krisis 1998 yang melanda Asia.

Tetapi di sisi lain eksistensi FDI juga memberikan kontribusi positif bagi investasi asing dan integrasinya dengan global production network. Hal ini dapat dicontohkan melalui industri automotif yang dikembangkan oleh Cina melalui kontribusi FDI. Industri ini mampu menolong negara-negara berkembang yang tidak dapat mengakses suatu bentuk barang dikarenakan faktor batas negara, biaya produksi, dan teknologi. Beberapa group perusahaan berusaha untuk menyeleseikan permasalahan ini dengan mendesain produk yang sesuai untuk suplier global, sehingga harga patokan mobil menyesuaikan global platform dan menyediakan skala ekonomi berbeda sesuai proporsisi model (Thun,2008 :368). Menurut penulis selain merupakan suatu sistem yang menguntungkan, sistem ini merupakan aplikasi dari sistem post-fordism yang diterapkan dunia dewasa ini. Seperti yang telah ditelaah sebelumnya bahwa Fordism adalah suatu bentuk strategi dalam perusahaan untuk melakukan spesialisasi pekerjaan yang akan semakin menambah efektifitas dan efisiensi kerja. Hal ini teraplikasikan dalam ekonomi global dewasa ini dimana spesialisasi kerja juga diterapkan oleh negara-negara dan perusahaan-perusahaan multinasional. Misalkan seperti contoh diatas, dimana Jepang melakukan spesialisasi kerja di Cina dalam bentuk merakit otomotif. Apabila kegiatan merakit otomotif dilakukan sendiri oleh Jepang di negaranya, maka harga otomotif tersebut akan mahal disebabkan kontribusi besaran upah pekerja yang merakit otomotif tersebut bernilai tinggi. Tetapi apabila pekerjaan merakit dilakukan di Cina dengan standarisasi upah pekerja yang lebih rendah dibandingkan di Jepang maka perusahaan otomotif tersebut akan lebih berhemat dan mampu menjual produknya dengan harga yang lebih murah. Inilah yang terjadi dewasa ini dalam fenomena globalisasi produksi. Menurut analisis penulis, lebih jauh lagi, penulis setuju dengan kritik teori dependensi mengenai globalisasi produksi yang terjadi melalui teori nilai lebih-nya. Dengan adanya fenomena teori nilai lebih dimana negara-negara berkembang hanya dimanfaatkan sebagai penyedia sumberdaya alam, buruh, dan pasar maka negara berkembang tidak akan pernah meninggalkan posisinya sebagai proletar. Sedangkan negara yang memiliki teknologi canggih, perusahaan multinasional yang besar dan pemilik modal akan tetap menjadi kelas borjuis dalam ekonomi global. Inilah mengapa dalam hal ini penulis berpendapat bahwa globalisasi produksi merupakan fenomena ekonomi politik internasional yang kompleks dan dilematis.

 

Referensi :

Thun, Eric. 2008. “The Globalization of Production”, dalam John Ravenhill, Global Political Economy,      Oxford: Oxford University Press

 

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: