Geopolitik, Geostrategi, dan Nation-State

Secara umum kajian tentang geopolitik dan geostrategi membahas tentang bagaimana kepentingan dan kebijakan suatu negara sangat dipengaruhi oleh keadaan bumi atau geografi yang dihadapinya. Konsep negara dalam pengertian kali ini akan lebih menekankan pada eksistensi negara sebagai nation-state. Memasuki abad  ke-20, negara imperial mulai merubah bentuk negaranya dari imperium menjadi nation-state yang merupakan akhir dari periode imperial. Periode nation-state ditandai dengan mulai dibangunnya identitas nasional sebagai landasan didirikannya sebuah negara yang memiliki kedaulatan.[1] Berakhirnya sistem imperial, tidak sertamerta menghilangkan uneven development yang telah diwariskan oleh periode ini. Lebih jauh, memasuki era nation-state negara akan terbagi-bagi sesuai dengan pandangan yang berbeda.

Konsep negara nation-state masih terbagi menjadi dua, yaitu nation tanpa state dan state dengan lebih dari satu nation. Sebagai contohnya, nation tanpa state adalah masyarakat Palestina dan suku Kurdi yang sama-sama tidak memiliki kedaulatan wilayah yang jelas dan perlindungan organisasi politik yang berdaulat. Sedangkan state dengan lebih dari satu nation mengalami banyak konflik atas perbatasan tiap nation. Tetapi hal ini dapat disikapi dengan baik melalui beberapa stategi (geostrategi)[2]:

  1. Penindasan terhadap wilayah nation lain. Hal ini banyak terjadi di Afrika dan merupakan peninggalan strategi politik Devide et Impera.[3] Sebagai contohnya kasus penyerangan suku Hutu terhadap daerah suku Tutsi di Gatumba yang dilatarbelakangi motif perebutan wilayah dan perebutan sumber mineral berupa berlian di kawasan tersebut.[4]
  2. Penindasan secara tidak langsung. Strategi ini dilakukan melalui penyebaran bahasa dan sistem pendidikan, seperti yang dilakukan Imperium British pada jaman imperialis, yaitu menyebarkan bahasanya keseluruh penjuru dunia-terutama wilayah yang menjadi koloninya-sehinga berefek pada digunakannya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dewasa ini.[5] Menurut penulis hal ini secara tidak langsung memaksa penduduk dunia untuk mempelajari kebudayaan negara tersebut.
  3. Akomodasi. Akomodasi dapat menjadi strategi yang berbahaya, karena dapat memunculkan ketidakpuasan dan menjadi pemicu timbulnya gerakan sosial yang mempertanyakan integritas wilayah dari eksistensi negara.
  4. Federalisme. Strategi ini membagi kekuatan dan otoritas dari negara kepada otoritas regional (negara bagian). Tetapi hal ini juga merupakan strategi yang berbahaya dikarenakan memicu munculnya gerakan separatisme dari negara bagian (federal) terhadap pemerintahan pusat. Sebagai contohnya program otonomi daerah yang dilakukan di Indonesia, dipicu oleh ketidakmerataan pembangunan dan distribusi ekonomi mengakibatkan munculnya gerakan separatisme di daerah-daerah seperti GAM di Aceh, RMS di Maluku dan UPM di Papua.

Memasuki era nation-state, pandangan geopolitik dan geostrategi menjadi semakin kompleks dalam membagi dunia. Unsur politik dan ekonomi menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat berpengaruh. Hal ini mengakibatkan pembagian dunia secara geopolitik milik Mackinder, menurut penulis sudah tidak lagi relevan. Mackinder membagi dunia ini menjadi kawasan Heartland, inner crescent of marginal states dan  outer crescent of oceanic powers yang lebih mengacu pada kawasan Eurasia.[6] Tetapi, dunia telah mengalami perkembangan yang pesat sehingga pembagian geopolitik  turut mengalami perubahan, menjadi negara Superpower, Major power dan Minor Power.[7]

Secara sederhana, negara Superpower adalah negara yang memiliki kapasitas pengaruh yang mengglobal. Negara ini berusaha untuk melindungi dan memperkuat posisi geopolitiknya dengan memperluas jangkauan pengaruhnya. Negara superpower memiliki dua karakteristik[8], yaitu

  1. Melegitimasi kekuatannya melalui ideologi.
  2. Superpowers do not last forever. Hal ini menurut Modelski dikarenakan terdapat long cycle yang terdiri dari empat fase dimana negara superpower tidak akan bertahan selamanya. Fase tersebut adalah :
  1. Global War. Terjadi perang besar antara negara-negara yang merasa memiliki kekuatan besar dan ingin mendominasi dunia.
  2. World Power. Muncul negara yang pemenang yang sangat kuat dan menjadi negara superpower yang mampu menciptakan tata ekonomi dan politik dunia
  3. Delegitimation. Tertantang dengan adanya tata dunia dari negara superpower, akan muncul negara-negara yang mengalami pertumbuhan kekuatan. Dunia akan lebih menjadi multipolar.
  4. Deconcentration. Ketenangan sebelum badai, frasa ini menunjukkan bahwa superpower semakin melemah dan negara-negara yang mengalami pertumbuhan kekuatan mulai sibuk untuk menunjukkan dominasi dan kekuatannya, sebelum pada akhirnya kembali pada fase pertama yaitu perang besar.[9]

Negara Major Power adalah negara yang memiliki pengaruh kuat di dunia meskipun tidak sekuat negara Superpower. Posisi negara ini berada diantara dua titik ekstrem antara penurunan kekuatan superpower dan naiknya kekuatan minor power. Sedangkan negara Minor Power adalah negara yang senantiasa terkena pengaruh dari negara lain atas urusannya, dan hanya memiliki peranan yang kecil. Terdapat banyak negara minor power yang secara geopolitik memiliki potensi sumber daya baik alam maupun manusia yang luar biasa. Tetapi negara semacam ini sering mengalami konflik internal dengan berbagai macam alasan. Hal inilah yang membuat mereka tidak fokus dalam urusan ketatanegaraan dan pengembangan potensi yang ada. Negara semacam ini biasa disebut dengan minor but not poor. Menurut penulis, setuju dengan pemikiran Marxist, pada dasarnya kapitalismelah yang menimbulkan masalah di dunia ini. Para kapital (pemilik modal) sengaja membuat negara-negara yang kaya sumberdaya baik alam maupun manusia untuk tetap terjebak dilubang kebodohan, konflik dan kemiskinan agar mereka tidak menyadari potensi yang mereka miliki. Hal ini jelas kentara pada negara-negara yang ada di Afrika yang kaya akan mineral, satwa, berlian, SDM, dan hasil alam lainnya. Tetapi dengan tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, konflik etnik, kesehatan buruk yang ada di Afrika menimbulkan masyarakat negara tersebut tidak menyadari potensi yang mereka miliki. Dengan mudah masyarakat Afrika terprofokasi pihak-pihak yang ingin mendapat keuntungan dalam konflik, misalkan sumber daya alam, seperti yang terjadi si Kongo dan Rwanda. Menurut penulis, strategi terbaik yang dapat dilakukan negara-negara menghadapi dunia yang semakin mengglobal secara geopolitik adalah memaksimalkan tiga aspek spatial entity of state[10], yaitu meningkatkan kualitas hubungan antara manusia dengan lingkungan, negara dengan lingkungan, dan manusia degan negara, agar tercipta suatu harmonisasi didalamnya.

 

REFERENSI :

 

Couloumbis,Theodore A.2003.Introduction to International Relations: Power and Justice.London: Pearson Education

Hudson,Valerie M.2007.Foreign Policy Analysis: Classic and Contemporery Theory.Maryland:Rowman&Littlefield Publishers

Short,John Rennie.1993.An Introduction to Political Geography.New York:Routledge

Wahyu.2004.Konflik Hutu-Tutsi BerkobarLlagi.[Internet]

Terdapat pada http://www.arsip.net/id/link.php?lh=DwNTBwMCAVBe

Diakses pada 27 Maret 2010 pukul 12.00

Wardono.2010.Kerawanan Konflik di Afrika.[Internet]

Terdapat pada http://reocities.com/CollegePark/gym/1110/makl5.html

Diakses pada 27 Maret 2010 pukul 12.00

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Couloumbis,Theodore A.2003.”Nation-State and Nationalism” dalam Introduction to International Relations: Power and Justice, hal.66

[2] Short,John Rennie.1993.”The Nation-State” dalam An Introduction to Political Geography, hal. 91-93

[3] Wardono.2010.Kerawanan Konflik di Afrika, [online]. Terdapat pada http://reocities.com/CollegePark/gym/1110/makl5.html, diakses pada 27 Maret 2010

[4] Wahyu.2004.Konflik Hutu-Tutsi berkobar lagi, [online]. Terdapat pada http://www.arsip.net/id/link.php?lh=DwNTBwMCAVBe, diakses pada 27 Maret 2010

[5] Short,John Rennie.1993.”The Nation-State” dalam An Introduction to Political Geography, hal. 94

[6] Short,John Rennie.1993.”Uneven Development” dalam An Introduction to Political Geography, hal.19

[7] Short,John Rennie.1993.”The State and The World Order” dalam An Introduction to Political Geography, hal. 71-76

[8] Ibid, hal 73

[9] Hudson,Valerie M.2007.”The Level of National Attributes and International System:Effects on Foreign Policy” dalam Foreign Policy Analysis:Classic and Contemporery Theory, hal.157

[10] Short,John Rennie.1993.”The State as Spatial Entity” dalam An Introduction to Political Geography, hal. 115-130

 

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: