Geopolitik dan Geostrategi di Era Kekinian

Berakhirnya Perang Dingin membawa pengaruh signifikan pada perkembangan geopolitik dan politik global. Dengan jatuhnya Komunisme Uni Soviet, dunia mengalami perubahan tatanan dan fokus kajian isu. Karenanya, memasuki era yang disebut postmodernis di abad 21, terjadi banyak fenomena baru yang memperkaya kajian geopolitik dewasa ini dan di masa yang akan datang. Dengan meningkatnya kompleksitas hubungan negara dan keberagaman aktor internasional, membuat kajian geopolitik dimasa yang akan datang dapat diamati dan diramalkan prospeknya. Untuk mengulasnya, berikut ini, penulis akan coba merumuskan beberapa kajian geopolitik dan geostrategi negara-bangsa di Abad ke-21 serta prospek perkembangan kajian geopolitik dan geostrategi di masa depan.

 

Geopolitik dan Geostrategi Negara-Bangsa di Abad 21: Edward Luttwak dan Samuel Huntington

Memasuki era ini, penulis menyadur ungkapan David Harvey yang memberikan sebutan untuk perkembangan geopolitik pada era postmodernis, yaitu “Geopolitical Vertigo”. “Geopolitical Vertigo” adalah suatu babak baru tentang tempat dan waktu yang membawa perluasan kultural dan struktur intelektual oleh rasa disorientation dan dislocation. Media dan komunikasi tidak hanya memperkuat kultur kapitalisme tetapi juga menciptakan hubungan yang terlalu kompleks dalam organisasi global. Hubungan inilah yang membuat geopolitik semakin “memusingkan”, karena geopolitik dianggap sebagai sebuah teater, dimana geografi adalah panggung, dan politik sebagai drama, yang berujung pada pandangan bahwa geopolitik dewasa ini adalah kajian yang semakin problematik.[1]

Setelah berakhirnya Perang Dingin, menurut Edward Luttwak, geopolitik telah bergeser secara kontras menjadi geo-ekonomi, dimana metode perniagaan telah menggantikan posisi metode militer, pasar menjadi semakin penting dibandingkan dayatembak dan negara-negara lebih tertarik pada perkembangan program teknologi, finansial, dan kekuatan ekonomi dibandingkan peperangan. Berbeda dengan Luttwak, Samuel Huntington memandang, dengan berakhirnya Perang Dingin maka kondisi negara-bangsa di abad ke-21 akan semakin berbahaya. Pada Abad ini, dunia akan semakin serupa dengan hutan dimana akan ada berbagai hal berbahaya, jebakan-jebakan tersembunyi, kejutan tidak menyenangkan dan ambiguitas moral. Semua hal ini diperkuat dengan tulisannya yang berjudul “The Clash of Civilizations”, dimana Huntington memandang civilization atau peradapan manusia sebagai sekelompok manusia dengan tingkat kultural tinggi yang merasa deterministik dan memiliki identitas tersendiri berbeda dengan spesies lain. Meskipun terdengar sangat primordial dan klasik tetapi civilization adalah aktor konflik pada era moderen, dimana Huntington telah mengklasifikasikannya menjadi tujuh klasifikasi, Western, Confucian, Japanese, Islamic, Hindu, Slavic-Orthodox, Latin American, dan African. Kelas dari perdapan ini muncul dikarenakan mikro dan makro level. Pada level mikro, perselisihan terjadi antar kelompok yang berdekatan untuk perebutan wilayah, seperti contohnya di Bosnia. Dan untuk level makro merupakan perselisihan pada tingkat negara dan dari kekuatan peradapan yang berbeda, adanya institusi internasional yang terlibat dan eksisnya pengaruh dari pihak ketiga, seperti contohnya pada Gulf War. Tesis yang diungkapkan Huntington ini secara langsung memperkaya kajian geopolitik karena menghilangkan aspek geografi sebagai aspek khusus pemicu konflik dengan mencampurkan unsur identitas dan atributnya.[2]

Melalui pendekatan yang dilakukan dua pengstudi di atas penulis setuju dengan keduanya, bahwasanya memasuki abad ke-21 geopolitik telah tertransformasi menjadi geoekonomi dan konflik yang terjadi di dunia internasional lebih dikarenakan eksistesi peradapan yang saling berselisih tidak secara geografis pada khususnya melainkan memperjuangkan identitas dan atribut-atribut kelompok. Hal ini dapat dilihat pada contoh kasus geo-ekonomi yang dialami Indonesia dan Australia terkait penyerahan visa sementara oleh Australia kepada 42 warga Papua yang mencari suaka pada 2006 lalu. Dalam kasus ini, hubungan geopolitik negara tetangga memang seringkali mengalami masalah dalam hal perbatasan dan lagi eksisnya gerakan separatis di Papua yang memicu kecurigaan. Aksi Australia dengan memberikan paspor tersebut memicu banyak protes dari masyarakat Indonesia agar menghentikan hubungan diplomatik dengan Australia. Tetapi, dalam menyikapi kasus ini baik pihak Australia maupun Indonesia -yang kentara marah- bertindak dingin.[3] Apabila dianalisis secara lebih dalam, aksi dingin keduanya merupakan bentuk pertimbangan aspek geoekonomi, dimana berbeda dengan geopolitik yang menitikberatkan pada aspek politik, geoekonomi lebih memandang penting aspek hubungan dagang. Seperti yang telah diketahui, hubungan dagang antara Indonesia dan Australia adalah hubungan saling tergantung dan saling membutuhkan, baik sebagai produsen maupun sebagai pasar ekspor. Karenya pemutusan hubungan diplomatik bukanlah hal yang tepat dilakukan kedua negara melihat dari sisi geoekonmi yang saling terkoneksi. Dilema-dilema seperti inilah yang terjadi dan memperkaya problematika geopolitik di abad ke-21. Selain itu, terjadinya konflik antar peradapan seperti yang diramalkan oleh Samuel Hantington dapat dilihat pada konflik di Bosnia. Konflik di Bosnia bermula dari kemelut politik di mantan Yugoslavia pada tahun akhir 1980-an dan awal 1990-an yang berujung pada pecahnya beberapa negara anggota federasi Yugoslavia. Negeri Bosnia Herzegovina dihuni oleh tiga kelompok etnis, masing-masing Bosnia (mayoritas Muslim), Kroasia, dan Serbia.  Etnis Bosnia dan Kroasia bersepakat atas kemerdekaan Bosnia, namun tidak bagi etnis Serbia.  Etnis Serbia di Bosnia melalui politisinya memboikot referendum kemerdekaan,   bahkan meluncurkan serangan militer  ke Sarajevo, ibukota Bosnia Herzegovina pada April 1992. Selama tahun 1992 – 1995 tentara Serbia di Bosnia dengan dukungan Federasi Yugoslavia (Serbia Montenegro) pimpinan Slobodan Milosevic menebar terror dan kekerasan di bumi Bosnia.  Pembersihan etnis (ethnic cleansing) menjadi salah satu cara maupun tujuan untuk menghalangi kemerdekaan Bosnia. Puncak kekejaman Serbia di Bosnia adalah apa yang disebut sebagai pembantaian di Srebrenica pada Juli 1995 (Srebrenica Massacre).[4]

 

Prospek Perkembangan Kajian Geopolitik dan Geostrategi di Masa Depan

Kajian geopolitik dan geostrategi tentu akan senantiasa berubah dan berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Tentu hal ini akan membuka banyak cakrawala tentang, Bagaimanakah geopolitik dimasa yang akan datang?. Disini, penulis akan mencoba untuk merumuskan beberapa faktor yang akan sangat mempengaruhi prospek perkembangan kajian geopolitik dan geostrategi dimasa yang akan datang, dengan mengambil analisis kekinian.

Pertama, dengan adanya eksistensi terciptanya dan terkonsolidasinya jaringan media global melalui korporasi media transnasional, maka geopolitik kedepannya akan menjadi fenomena televisual dan entertainmen. Kedua, dengan merenungkan tentang perubahan alami dari geo-power, perlu adanya perubahan dalam perkembangan ilmu kontemporer technoscience dan keadaan bumi yang juga perlu dipertimbangkan. Ketiga, memasuki abad ke-21, geopolitik mengalami transformasi fokus menjadi geo-ekonomi. Kondisi ini akan akan semakin kompleks dan kedepannya akan mengalami banyak permasalahaan seperti regional warlord, gang-gang criminal, transcontinental missiles, satelit televisi global, internet, dan global warming.[5]Selain ketiga hal tersebut penulis akan menambahkan beberapa prospek yaitu , Keempat, dengan semakin majunya teknologi dan analisis terhadap antariksa, tidak menutup kemungkinan kajian geopolitik akan meluas dan mengkaji kompleksitas hubungan-hubungan geopolitik diluar angkasa. Kelima, isu raw material tetap menjadi fokus kajian geopolitik dan geostrategi tetapi dengan tokoh yang berbeda, jika pada abad 20 hingga 21 minyak adalah aktor konflik, kedepannya isu nuklir dan air bersih bisa menjadi fokus kajian utama.

 

Referensi :

Tuathail,Gearoid O.1996.Critical Geopolitics.London:Routledge

Anon.2006.RI-Australia dan Geoekonomi.[Online].Dalam Kompas Cyber Media             [http://www.infoanda.com/linksfollow.php?li=www.kompas.co.id//utama/news/0603/28/121217.htm]             diakses pada 11 April 2010

Susetyo,Heru.2008.Menanti Keadilan Untuk Bosnia.[Online] Dalam Tanjung Pinang Business Directory             [http://www.tanjungpinang.info/menanti-keadilan-untuk-bosnia.html] diakses pada 11 April 2010

 


[1] Tuathail,Gearoid O.1996.”Visions and Vertigo Postmodernity and the Writing of Global Space” dalam Critical Geopolitics.London:Routledge, p.178

[2] Ibid, pp.182-195

[3] Anon.2006.RI-Australia dan Geoekonomi.[Online]. Dalam Kompas Cyber Media [http://www.infoanda.com/linksfollow.php?li=www.kompas.co.id//utama/news/0603/28/121217.htm] diakses pada 11 April 2010

[4] Susetyo,Heru.2008.Menanti Keadilan Untuk Bosnia.[Online] Dalam Tanjung Pinang Business Directory [http://www.tanjungpinang.info/menanti-keadilan-untuk-bosnia.html] diakses pada 11 April 2010

[5] Tuathail,Gearoid O.1996.”Visions and Vertigo Postmodernity and the Writing of Global Space” dalam Critical Geopolitics.London:Routledge, pp.198-201

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: