Elegi

Pagi-pagi Gambir telah begitu menyesakkan. Aku berdiri pongah diatas sepatu pantovel merah maron milik Kardi tetangga sebelah kontrakanku yang bekerja sebagai sales pakaian dalam wanita. Lagakku boleh, tampangku isyarat, dan tegakku kokoh. Beberapa wanita bermata binal menatapku penuh nafsu. Hah! Silahkan tatap aku dengan begitu tak jemu, asal kau tahu saja aku hanyalah budak lapar tak berpenghasilan. Hidup dalam rantauan yang menyakitkan. Asal kau tahu saja, maka tak ada mata binal menatapku dengan nafsu. Rokok sisa yang kupungut di jalan kuhisap kuat. Yah beginilah hidup di Jakarta, penampilan adalah segalanya. Kau boleh saja berdasi tapi dompetmu tak pernah terisi, kau boleh saja merokok tapi saat istrimu minta makan kau hanya bisa berkokok, berkata sabar sampai berbusa-busa, hingga tuli istrimu dibuai kata-kata sabar tiap tak ada sesuappun masuk ke perutnya.

Aku, dengan jas kumal milik kakek leluhurku yang hanya itu saja pakaianku, duduk dalam lamunan di bangku-bangku panjang stasiun. Kulihat diriku dalam lelah, merana dan meranti hidup yang tak lama ini. Tak ada lagi rokok, kugenggam saja puntungnya. Menatap manusia-manusia yang berlalu lalang tanpa henti. Mengoceh di telephon seakan mereka tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan, padahal hanya penipu-penipu saja, tak bisa dipercaya. Alah!namanya juga usaha, penipu juga butuh makan. Mereka manusia biasa, cuma jahat saja pikirannya. Makan haram tak apa, asal perutnya dan keluarga ada isinya. Melongok sebentar, melihat anak kecil kotor mengaduk-aduk sampah, penuh harap dalam matanya. Sepotong roti sisapun tak apa asal perut terganjal, biar walau roti itu telah tercampur dengan muntahan bayi yang kekenyangan susu dari ibunya pun tak apa, asal bisa dimakannya. Itu saja harapannya, begitu sederhana. Bahkan jika kotorannya sendiri bisa dimakannya, maka ia akan memakannya kembali. Tapi sayang, tak ada kotoran diperutnya, perutnya terlalu bersih dan suci untuk diisi. Ia tak pernah membawa kotoran kemana-mana, bahkan saat pergi shalat di mushola, ia tak membawa kotoran di perutnya. Yang dibawanya adalah tubuh yang terlampau bersih dan hati yang terlampau tulus. Tak ada, sungguh tak ada kotoran apapun di perutnya.

Itulah mengapa orang bilang, nabi pernah bilang, dulu sekali, saat aku masih ngaji, saat ustad bercerita, lebih dulu lagi, tentang Nabi Muhammad yang juga jauh lebih dulu itu berbicara bahwa orang miskin cepat masuk surga. Kini aku jadi memahami satu hal, tentu mereka masuk surga lebih dulu, karena mereka selalu suci. Hahahaha!aku tertawa mengaduk perutku. Aku tak percaya, sungguh tak percaya, aku mensyukuri keadaanku yang miskinnya keterlaluan ini. Bukanlah aku yang tak ingin berusaha untuk tidak bekerja. Aku bukan pemuda malas yang tak tahu diri, hanya bisa jadi sampah masyarakat. Tapi orang bodoh mana mau memperkerjakan aku?. Laki-laki bisu yang hanya bisa berlalu lalang di stasiun mencari orang yang mau menjadikanku kuli. Mengangkat barang-barang mereka menuju taksi-taksi yang menunggu dengan argo yang berlari secepat kuda. Itulah aku. Aku dalam kebisuaanku. Merana, hidup dalam peranaan panjang yang tak memiliki tepi. Aku jauh lebih iri pada bakteri, mereka kecil tak terlihat tapi begitu berarti, bisa diolah menjadi obat yang sakti. Tapi aku, begitu hakiki, hanya bisa jadi kuli, tak lebih, tak layak, tak fungsi. Hahahaha….

Stasiun tak seramai hari Sabtu dan Minggu, Stasiun lenggang saja dalam damai. Petugas stasiun berseragam begitu gagah, mengucapkan selamat datang dan selamat tinggal, mengingatkan untuk berhati-hati dan memeriksa barang bawaan kembali. Sungguh pegawai itu tak pernah mempertimbangkan nasibku, mempertimbangkan ingin dan harapku. Aku hanya ingin barang mereka tertinggal atau terjatuh, maka itu rezeki untukku. Hahaha!apalagi yang bisa kuharapkan selain itu, toh aku juga butuh makan. Sama seperti si penipu dan anak gelandangan kotor pengaduk sampah. Kami jelek, kumuh, miskin, tetap saja butuh makan. Hahaha…

Aku melihat menerobos jendela kereta, banyak orang yang duduk, berdiri, berlalu lalang, atau memandang jenuh ke luar. Memandangku yang terlalu aneh dalam penampilan. Aku suka memikirkan apa yang mereka pikirkan. Aku kadang sibuk menebak dan sejurus kemudian aku terjebak pada rumitnya kehidupan orang lain. Seorang wanita menatap pintu masuk stasiun dengan cemas, lalu aku menebak dia sedang menanti seseorang. Kuciptakan seseorang yang dinantikannya dalam imajinasiku. Ia menunggu teman yang ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padanya sebelum ia pergi. Lalu teman yang ditunggunya itu datang dan mencari-carinya, mengaduk seluruh isi kereta mencari wanita itu, dan saat ia telah bertemu, sang teman hanya mengatakan, ”Maaf sebelum kau benar-benar pergi, aku cuma mau mengatakan, aku akan menikah, dengan pacarmu!”Hahahahaha!aku tertawa sendiri, membayangkan lamunan gilaku, imajinasi nakalku. Kuciptakan semuanya di dalam sini, didalam otakku. Kereta itu telah pergi tapi orang yang dinanti tak kunjung datang, wanita itu terlihat sedih. Dia hanya menundukkan wajahnya seiring kereta berjalan meninggalkan stasiun. Meninggalkan siapapun yang dinantinya.

”Tadi kereta ke arah mana ya, Mas?”tanya seseorang tiba-tiba padaku, aku melirik jamku, mengambil kertas dari sakuku dan menuliskan ’Jogja’ diatasnya. Lelaki itu kini tampak gugup, dia terduduk saja di sebelahku. Aku menatapnya, tiba-tiba teringat wanita tadi. Kutuliskan sesuatu di atas kertas itu, sebuah pertanyaan, ’mencari siapa?’. Dia membacanya, lalu menatapku lagi. ”Mencari pacar saya, seharusnya kami pergi bersama ke Jogja untuk kawin lari, tapi saya tidak bisa melakukannya karena saya sudah dijodohkan dengan seseorang, dan orang itu adalah sahabatnya…”lelaki itu tertunduk sedih. Aku tersenyum getir, bayanganku meleset sedikit sekali. Mungkin ia mencari wanita tadi. Kebetulan yang aneh, Tuhan membaca pikiranku lalu mencomotnya dan  menjadikannya kenyataan, sungguh tidak kreatif, Hahaha, kadang orang miskin bisa juga kurang ajar.

Ah…inilah sebuah elegi, ada yang datang ada yang pergi. Ada yang kawin ada yang lari. Hidup ternyata begitu rumit, setiap insan memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Aku menjadi semakin bijak saja, mencoba menertawakan diri, dan mencoba untuk sekedar menasehati, jika kau ingin mengerti hidup, jadilah aku, suka mengamati, suka berimajinasi, dan suka menguli, di stasiun, karena di stasiun kau akan menemukan elegi. Aku tertawa pongah di atas elegi hidup orang lain, dan diatas elegi hidupku sendiri yang hancur berantakan. Elegi, apa itu?

Malang 9 Februari 2009

(menanti IP pertama…)

Karya ini diterbitkan oleh Jawa Pos pada 16 Maret 2009

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Masterpiece. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: