AFTA Dan MERCOSUR: Aksi Dan Peranannya dalam Globalisasi Ekonomi

Dalam menghadapi era globalisasi yang mengusung serta perdagangan bebas didalamnya, banyak negara-negara seregional yang menciptakan suatu organisasi bentukan guna menangkal efek buruk yang kiranya terjadi dengan datangnya gelombang maha dasyat globalisasi terutama globalisasi ekonomi. Tidak hanya itu saja alasan menciptakan suatu rezim regional yang bergerak dibidang ekonomi, setidaknya masih ada tiga alasan lain. Pertama yaitu adanya persamaan keinginan untuk menghindari sesuatu (common aversion). Contoh dari common aversion adalah seperti sama-sama ingin menghindari serangan pengaruh komunisme di Asia dan gelombang hegemoni Amerika Serikat yang menciptakan ketergantungan di Amerika selatan. Kedua yaitu adanya kesamaan keinginan mendapatkan sesuatu (common interest) seperti keinginan menciptakan kestabilan ekonomi dan kerjasama bilateral negara. Dan yang ketiga adalah terjadinya banyak peristiwa hebat yang berefek pada berubahnya banyak ranah kebijakan negara seperti contohnya peristiwa 11 September.  Karena alasan-alasan tersebut, pada akhirnya regionalisasi dijadikan sebagai alternative. Terbentuklah dua rezim regional yang berkecimpung dibidang ekonomi, yaitu AFTA pada lingkup Asia Tenggara dan Mercosur di Amerika selatan yang keduanya menjadi regional ekonomi terbesar ketiga dan keempat didunia.

AFTA (ASEAN’s Free Trade Area) merupakan wujud kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia  serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya. Lokomotif AFTA adalah Thailand, Malaysia, Indonesia, Fhilipina, dan Singapura yang mencoba bentuk neomerkantilisme dan juga berlatih memanajemen suatu kebijakan perdagangan. AFTA diciptakan dengan asumsi dasar bahwa negara-negara ASEAN didominasi oleh negara-negara berkembang yang butuh banyak persiapan dan latihan sebelum pada akhirnya ikut berkecimpung di dalam arena pasar bebas internasional.

Berbeda dengan AFTA, MERCOSUR adalah  sebuah organisasi yang terdiri dari negara-negara Amerika Selatan. Organisasi ini didirikan pada 1985 oleh 5 negara yaitu Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela. Piagamnya menyatakan bahwa MERCOSUR bertugas mengkoordinasikan kegiatan ekonomi, termasuk hubungan niaga, komunikasi, kegiatan kebudayaan, kewarganegaraan, paspor,visa, kegiatan sosial, dan kegiatan kesehatan. MERCOSUR terbentuk sebagai bentuk counter perdagangan multilateral WTO dan adanya krisis pada 1980an.

AFTA dan MERCOSUR, keduanya memiliki pemain-pemain yang hebat dan tangguh dalam menghadapi permainan dan tantangan globalisasi. Bahkan bisa juga dikatakan kedua organisasi itu merupakan warisan kesuksesan yang sangat berharga dan berefek besar. Pola dan strategi menarik yang terjadi pada kedua organisasi tersebut adalah negara-negara neoliberal berinvestasi di negara-negara penganut neomerkantilis yang berperan sebagai pembentuk kompetisi dan pembanding keuntungan saat longsornya perdagangan internasional pada masa itu. Ini merupakan pendapatan dan keuntungan luar negeri yang menyeimbangkan serangan defisit perdagangan ekonomi neomerkantilis. Pada pengertian ini, FDI berperan sebagai pengganti perdagangan. Menurut ekonomi neomerkantilis, untuk menghasilkan surplus perdagangan, pasar mereka harus tetap membuka diri untuk para investor dari negara-negara neoliberal. Sedangkan untuk memperluas ekonomi global, neomerkantilis harus melanjutkan ekspor, meskipun negara neoliberal juga tetap berusaha memperluas FDI secara lintas batas. Perdagangan tanpa investasi, seperti pemerintah tanpa pemerintahan, tidak dapat tumbuh subur.

Dalam Mercosur, arus ketidakstabilan politik dan kekacauan ekonomi Argentina dan meningkatnya suara sayapkanan yang meminta pendistribusian kekayaan dan restorasi keadilan sosial di Brazil akan mengalihkan energi dari jauhnya konsolidasi dalam pasar regional. Presiden terpilih 2003 Argentina akan menghadapi tugas yang berat yaitu menumbuhkan perekonomian dan meraih inverstor internasional. Presiden Brazil malah harus mengkhawatirkan aliansi daripada musuh-musuhnya yang akan membuatnya tidak memiliki waktu untuk proyek SAFTA, dan ditambah dengan munculnya isu keamanan setelah terjadinya serangan 11 september. Efek dari serangan 11 September juga mengakibatkan negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki penduduk mayoritas muslim seperti Singapura, Malaysia dan Indonesia mau tidak mau lebih terfokus pada masalah keamanan yang juga akan mempengaruhi kebijakan ekonomi. Pengaruh kejadian tersebut pada perekonomian yaitu timbulnya sikap masyarakat Indonesia dan Malaysia yang anti Amerika dan Anti globalisasi.

Transisi ekonomi dan munculnya negara-negara independent baru dapat menangani daya pikat dari manajemen perdagangan, regulasi pasar, dan pembatasan sistem finansial, inilah yang menjadi bukti kesuksesan ASEAN lampau pada sepanjang perjalananya. Tetapi model ini tidak akan bekerja pada perekonomian dunia setelah masa terjadinya serangan 11 September. Pada saat ini para anggota sungguh sangat berbeda dengan pada masa Soeharto, Lee Kwan Yew, dan Mahatir yang yang mampu berhati-hati dalam memelihara common regional interest. Karenanya pada masa ini keadaan menjadi lebih sulit tapi tetap tidak menutup kemungkinan untuk menyelamatkan perdagangan dan investasi sebagai alat integratif dari regional Asia Tenggara.

 

Referensi :

 

http://one.indoskripsi.com/node/3349

 

A.Stein,Arthur,’Coordination and Collaboration:Regimes in an anarchic world’ dalam D.Krasner,Stephen(ed),International Regimes,Cornell University Press,Ithaca and London,hal 115-140

 

Pang,Eul-Soo(April 2003).AFTA and MERCOSUR at the Crossroads:Security,Manage Trade,and Globalization:Contemporary Southest Asia,25,3;ABI/INFORM Global, hal.122-153

 

Tulisan ini dibuat saat penulis masih semester 2 jadi harap maklum apabila jurnal masih acakadul :p

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: