Minggat yang gagal

Hari ini, Malang 26 February 2012, untuk pertama kalinya sejak usia 6 tahun, saya mencoba sekali lagi untuk minggat. Hehehehe. Diantara Ibu, dan saudara-saudara saya lainnya, saya termasuk yang paling jarang melakukan aksi ini. Minggat….ya nekad banget mau minggat, kayak tau aja mau minggat kemana, kayak punya aja duit buat minggat, ZZZzZzZzZzZzZzZzZzzZZZ -_____________________-”

Masalah, selalu aja menjadi penyebab manusia untuk merasa ingin lari, ingin pergi, dan ingin menyendiri. Dan tentu, masalah yang dihadapi bukan sembarang masalah. Pasti itu adalah masalah yang berat, dan hari ini adalah hari yang sangat berat. Hari ini akhirnya saya menangis sampai dada rasanya sakit banget.

Hidup yang nggantung, esok hari yang nggak pernah pasti, dan gairah yang makin hari makin redup, memperburuk keadaan hari-hari saya. Stress tingkat tinggi, dan jujur, ini adalah pertama kalinya saya merasa stress dan tidak berdaya. Ketidak berdayaan saya ini bukan berarti saya tidak mencoba. Saya sudah berusaha sebisa saya untuk mengembalikan rasa percaya diri, positive thinking, dan semangat untuk kembali menghiasi hari-hari saya. Saya membaca banyak buku motivasi, melakukan semua hal yang dapat membuat saya senang, dan saya juga sudah berdoa…tetapi semuanya percuma. Awan hitam diatas kepala saya, tidak mau pergi dan terus membayangi. Hingga puncaknya adalah hari ini.

Dari kemarin, mata saya kedutan disebelah kanan. Tidak berhenti, sampai saya bingung dan was-was tentang apa yang akan terjadi. Mata kedutan selalu memberi saya tanda bahwa ada sesuatu yang akan terjadi, walaupun saya tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi. Karena kedutan disebelah kanan, jadi saya berfikir bahwa ini akan menjadi pertanda baik. Tapi, saya 100% salah. Dari pagi, saya harus bertengkar dengan bapak cuma gara-gara obat sakit gigi sike. Saya berusaha memperbaiki mood dengan mandi keramas pake air dingin, dan Malang emang lagi dingin-dinginnya. Saya percaya bahwa mandi air dingin adalah salah satu cara untuk memperbaiki mood saya. Setelah mandi, saya tidak bisa percaya dengan apa yang saya lihat. Semua yang saya kerjakan dari satu bulan yang lalu hilang. Hilang tak bersisa, tidak bisa kembali, dan nasib saya benar-benar digantung dengan hal itu. Mood saya kembali memburuk, benar-benar buruk.

Diluar langit sudah menunjukkan gelap yang pekat, dan entah karena stress yang tak bisa lagi saya bendung, saya memutuskan untuk keluar rumah mengendarai motor dan menerjang hujan. Dibawah guyuran hujan yang lebat, angin yang kencang dan pohon yang menari-nari itu saya menemukan dingin yang membuat nyaman. Saya benar-benar kedingingan, seluruh tubuh basah kuyub. Muter-muter Malang tanpa ada tujuan, dan akhirnya pulang dengan keadaan sangat basah. Sesampai rumah rasanya badan saya remuk dan kepala saya pusing. Hhhhmmm..mungkin saya memang tidak cocok hidup di air. -___-”.

Dengan tubuh yang kedinginan, setelah mengeringkan badan, saya memutuskan untuk tidur. Hari yang berat, dan tubuh yang kuyu ini membuat lelap sepertinya menjadi satu-satunya hal yang bisa saya lakukan. Sebelum tidur, saya berdoa, semoga saat saya bangun nanti, semunya akan membaik. Tapi, ternyata apa yang saya pikirkan salah. Setelah sholat magrib,terjadi pertengkaran antara Bapak dan sike. Pokoknya nggak ngerti deh kenapa tiba-tiba bapak jadi ikut-ikutan memarahi saya. (Ya ampun makin lama bahasanya jadi tambah baku gini yaaaaa…-______-”)

setelah pertengkaran antara saya dan bapak, akhirnya saya nangis, dan memutuskan untuk minggat karena nggak kuat. Kenapa nggak kuat? jadi nggak kuatnya adalah gini,

pernahkah kamu berfikir bahwa orang tua kadang nggak pernah mau ngerti apa yang anak mau, dan senantiasa memaksakan keinginannya pada anak. Pernahkan kamu berfikir bahwa didunia ini hanya orang tua yang boleh sakit hati sementara anaknya pada nggak boleh. Atau pernahkah kamu berfikir, bahwa orang tua itu nggak pernah mau untuk mengerti apa yang anak rasakan. Orang tua selalu benar, orang tua itu Tuhan.

Sebagai anak, dan anak dari keluarga ini, selalu saya merasa tidak diperlakukan dengan adil. Saya tidak pernah menuntut tapi saya selalu dituntut. Saya tidak pernah meminta banyak, tapi saya dipaksa memberi banyak. Saya selalu berusaha untuk mandiri, tapi kemandirian saya tidak pernah dianggap. Saat seharusnya kebutuhan saya dipenuhi dan menjadi tanggungan sepenuhnya, saya tidak pernah meminta sepenuhnya. Saya mampu menghidupi hidup saya sendiri dari usaha dan beasiswa yang selama kuliah saya dapatkan. Tapi ternyata, itu tidak cukup. Yang sedikit, yang mereka berikan itu, terasa bagai hutang untuk hidup saya. Dalam keadaan yang bahkan kami tidak kesulitan dalam urusan ekonomi, saya benar-benar tidak tahan. Karena yang sedikit, bahkan terlalu banyak untuk dia yang menghamba pada harta.

Tidak pernah adil, cinta saya atas keluarga ini, tidak pernah dihargai dengan adil. Jika saya mau egois, tidak memikirkan dan menganggap penting urusan restu, mungkin saya akan tetap nekad memperjuangkan perasaan saya. Tolonglah, mengertilah tentang apa yang saya rasakan. Entah, mengapa perasaan ini begitu dalam. Saya hanya merasa sangat nyaman, sangat sayang, dan mungkin cinta dengan pria ini. Tidak pernah sedetikpun dalam hidup saya, saya berusaha untuk menafikkan perasaan ini. Tidak juga berusaha untuk menghapuskannya, karena saya tahu, saya tidak akan bisa. Dalam diam ini, dalam beku hubungan ini, sulit untuk saya mengatakan, bahwa tidak pernah terlewat seharipun tanpa memikirkan dan berdoa yang terbaik untuk kamu yang ada disana. Mungkin gila, tapi saya selalu ingin tahu dia sedang apa, apakah sudah menemukan yang lain, dan malu-malu dalam hati sayapun bertanya, “apakah bisa merakan apa yang saya rasakan?”. Saya lelah…perasaan yang begitu kuat ini, terlalu kuat untuk saya hapuskan. Tapi…bayangkan, saya harus menepis perasaan ini, hanya untuk mematuhi apa yang keluarga ini katakan. Saya mampu mengorbankan kebahagiaan pribadi saya, untuk kebaikan semua, meskipun remuk saya menahan tangis, dan sakit. Siapakah yang paling egois, dan bahkan saya tidak pernah berani untuk menanyakan pada dia, “sesakit apa?, karena saya sendiri tidak bisa membayangkan sesakit dan semenderita apa dia dulu. Tapi mungkin, sakit dan derita yang kamu rasakan, telah menjadi hutang, dan tiap hari saya bayar dengan tangis dan rindu akan kehadiranmu. Saya sangat menderita dengan keadaan ini. Saya tidak bisa membayangkan, jika nantinya, seumur hidup, saya tidak mampu melupakan pria ini hanya karena saya merasa sangat bersalah telah sempat melukainya. Dan inilah hukuman yang harus saya tanggung. Masih utuh, semuanya bahkan masih sama seperti yang saya rasakan pertama kali. Memang bodoh, tapi…inilah hutang saya.

Tidak adil…dan masih banyak ketidak adilan yang tidak bisa dan tidak akan cukup untuk saya ceritakan. Dan malam ini, dada ini meledak, tangis ini menderu, dan minggat menjadi jalan keluar untuk memecah kebuntuaan ini. Saya lelah…atas ketidak adilan ini…

Tapi, minggat ini, jadi minggat yang gagal karena Ibu berhasil menyusul saya, dan membuat saya repot karena rengekannya. Saya tidak tahan jika ibu menderita. Saya tidak kuat melihat Ibu pulang sendiri malam-malam. Dan karena si manja ini, Minggat saya gagal -_____-”

Tulisan malem ini kacau banget, sangat emosional, dan tanpa pikir panjang, pokoknya nulis aja unek-unek, nggak peduli mau dibacanya enak atau nggak, ehehehe…

Yang pasti, ini jangan dicontoh ya anak-anak!!!

 

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Februari 26, 2012, in Daily. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: