Love and Abstract

Bertanyalah, mengapa cinta itu harus dipersulit…maka jawabannya hanya dengan sulit cinta itu diuji, tanpa sulit cinta itu tak akan pernah dewasa…

Hari ini entah dapat angin dari mana, gue jalan-jalan ke toko buku “G” itu. Tiba-tiba aja, kangen liat deretan buku dan pengen juga ngeliat perkembangan buku yang ada sekarang. Dan saat sampai disana, hasrat nulis gue kumat. Benernya ni hasrat nulis uda mulai tiba-tiba nongol sejak gue buka blog ini. Membiasakan pake bahasa gaul getooo, soalnya gue lagi nyiapin skrip buat novel remaja. Kalo nggak dibiasain pake “gue-lo” takutnya disindir lagi ma penerbit “bahasa kamu coba lebih gaul, kamu terlalu oldish“. Pas gue baca tuh kritikan dari penerbit, okeeelllaaaahhh,,,gue biasain mulai sekarang pake gue elooooohhhh.

Pas jalan-jalan ke toko buku dan ngeliat begitu banyak buku disana gue baru sadar, didunia ini ternyata banyak orang yang mirip ma gue, yaitu suka nulis. Buktinya, novel sekarang buanyaaaakkkk bangeett dengan tema yang banyak juga. Tetapi, tema yang masih happening sampai sekarang ya tetep aja Cinta. Cinta Ibu Ayah, Cinta Kekasih, Cinta Keluarga, Cinta Homoseksual, semuanya masih bicara tentang cinta. Cinta emang nggak pernah habis buat dibahas. Cinta nggak pernah punya definisi yang tepat. Semua orang merasakan cinta, dan jujur cinta adalah hal paling utama yang dicari bersanding dengan kata “bahagia”.

Well, malam ini gue pngen bicara tentang cinta. Bicara tentang cinta, maka bicara tentang gue. Hari ini gue bener-bener kangen dengan cinta. sepanjang perjalanan pulang tadi, otak gue cuma mikirin tentang cinta…

Hidup itu emang nggak pernah bisa lepas dari cinta. Dan cinta itu emang punya satu sifat, yaitu “menghidupkan”. Itulah esensi hidup dan itulah esensi cinta. Saat lo hidup dan lo ngerasain cinta, baru lo ngerasain hidup yang sehidup-hidupnya. Dan gue kehilangan itu. Gue tau, banyak cinta disekeliling gue. Tapi, cuma cinta yang “itu” yang paling menghidupkan.

Lama sudah, kemana mana gue nyetir sendiri, maen-maen sendiri, membicarakan hidup dan masa depan gue dengan diri gue sendiri. Gue nggak bisa menafikkan, gue butuh “cinta” untuk membuat semuanya mudah. Ya…gue bener-bener ngerasa sendiri, dan gue capek.

Cinta itu sulit, kenapa sulit, karena cinta itu nggak sembarangan. Banyak unsur dalam cinta yang harus dipenuhi sebelum dia benar-benar menjadi cinta. Gue nggak tau apakah gue pernah mendapatkan cinta yang utuh, atapun tulus. Tapi yang gue tau, gue pernah memberikan cinta yang utuh dan tulus. Tapi dalam kebodohan, keegoisan, kekanak-kanankan dan tanpa pertimbangan. Dalam cinta, ada nyaman. Nyaman adalah saat lo bisa bicara dan bisa menceritakan apapun pada cinta. Nyaman adalah saat lo percaya dan menggantungkan hidup lo pada cinta. Nyaman adalah saat lo bisa tertawa dan selalu merindu untuk terus tertawa bersama cinta. Dan nyaman adalah saat lo berkomitmen untuk menjadikan dia segala-galanya dan selama-lamanya. Tapi nyaman harus selalu seiring dengan takdir. Saat takdir nggak mengijinkan kenyamanan lo buat lanjut. Ya udah, lo harus rela melepas cinta itu, dan berdiam diri.Itulah mengapa, gue selalu bertanya, mengapa cinta itu selalu dipersulit…dan mengapa kenyamanan itu belum bisa gue temuin lagi, dalam pribadi yang lain…

Dalam hati yang kosong ini, dalam raga dan otak yang tak tau berjalan kemana…cinta adalah partikel paling kejam yang tangis saja tak cukup untuk mengaisnya kembali.

Dulu kita memburu, mengharu, dan berderu atas nama cinta itu…

Tapi kini sisanya saja tak tampak, sisanya tak berbau lagi…

Melelahkan, memang terlalu melelahkan untuk membangun cinta itu diatas pondasi ketidakmungkinan

Bahkan aku terlalu sombong dan angkuh untuk memulainya

Aku takluk pada apa yang katanya tidak mungkin

Aku luruh pada dinding yang tak putih, tak kokoh dan tak bertuah itu…

Dan kini, mengharap segalanya kembali adalah percuma, karena semua takkan pernah sama

Cinta memilih…tapi cinta patuh pada takdir

Disana, dibuku itu, tak pernah tertulis nama kita berdampingan

Tak pernah terukir wajah kita dalam cahaya yang berkilauan

Tawa itu tak lagi nyaring…tapi luka ini telah mengering

Mengapa aku mengatakannya lagi, karena ini terlalu indah

Anggaplah semua ini salahku, dan biarlah ini berlalu

Karena semua memang salahku, semua memang kurangku

Adakah cinta mengijinkan untuk sedikit memperbaiki?

Untuk menyampaikan rasa rindu dan deru ini?

Tapi cinta mendiamkan, biarlah diam yang akan menjawab dan menenangkan

Biarlah cinta tetap diam. Terkurung dalam hati yang tak seberapa dalam. Dan terjaga untuk tidak saling menyakiti.

Karena sesungguhnya, cinta itu tak ada lagi…

Cinta yang sulit…

Tak patut diuji…

 

Panjang ya…..nggak tau itu aja yang ada di hati gue malam ini. Udahlah, nggak perlu gue jelasin maksud kata-kata panjang nggak berirama diatas. Mending gue diem. Hehehehhe

 

 

 

 

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Februari 10, 2012, in Daily. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: