Leadership, Hegemoni dan Stabilitas: Orde dalam EPI

Mempelajari Ekonomi Politik Internasional erat kaitannya dengan mempelajari sistem pasar, dimana di dalam sistem ini tidak hanya faktor internal saja yang dominan, tetapi faktor eksternal-pun sangat berpengaruh. Dengan eksistensi faktor eksternal, memberikan efek dinamika yang unik dalam perkembangan studi EPI. Berikut akan dibahas tentang tiga teori yang berusaha menjelaskan posisi dinamika eksternal dalam pengaruhnya terhadap EPI, perubahan struktural dalam EPI dan Amerika yang sempat menduduki posisi hegemoni dalam struktur internasional.

 

Tiga Teori Kontemporer dalam EPI : Relevansinya kini

Dalam studi EPI, terdapat tiga teori kontemporer yang sama-sama mengamati dinamika sistem pasar dan struktur internasional tetapi dalam pandangan dan perspektif yang berbeda. Ketiga teori tersebut adalah The Theory of the Dual Economy, The Theory of the Modern World System, dan The Theory of Hegemonic Stability.

Teori pertama adalah The Theory of The Dual Economy atau biasa disebut dualisme. Teori ini menegaskan bahwa setiap aktivitas ekonomi baik domestik maupun internasional harus dianalisis melalui dua sektor yang relatif independen yaitu sektor moderen  dan sektor tradisional. Proses dari perkembangan ekonomi termasuk di dalamnya penggabungan dan transformasi sektor tradisional di dalam sektor moderen melalui modernisasi struktur ekonomi, sosial, dan politik. Integrasi global antara pasar dan institusi merupakan konsekuensi dari ketetapan pergerakan kekuatan ekonomi menuju level yang lebih tinggi dari efisisensi ekonomi dan interdependensi global.[1]

Teori kedua adalah The Theory of the Modern World System atau biasa disingkat dengan MWS. Esensi dari teori ini menjelaskan tentang the origin, struktur, dan fungsi dari sistem. Teori ini berlandaskan pada teori Marxist yang menjelaskan tentang konsep dasar masyarakat. Teori MWS bicara tentang hirarki internasional, perjuangan negara, kelas-kelas ekonomi, kapitalisme sebagai fenomena global yang menimbulkan interdependensi negara periphery dan sistem kapitalisme dunia yang mengakibatkan banyaknya negara underdevelop dibanding negara develop. Dalam melihat komponen internasional teori ini membagi dunia menjadi tiga kelas, yaitu core, semiperiphery dan periphery. Perbedaan yang menonjol antara MWS dan dualisme adalah dalam hal melihat struktur internasional. Dualisme beranggapan bahwa posisi negara core dan periphery terpisah dan terisolasi ekonomi satu sama lain, sementara MWS melihat bahwa posisi negara core dan periphery berhubungan erat. Dalam aplikasinya, teori ini adalah teori yang berjaya di masa Empire sekitar abad 16-19 M.[2]

Teori ketiga adalah The Theory of Hegemonic Stability. Teori ini beranggapan bahwa dalam ekonomi dunia liberal perlu adanya “leadership”, hegemon atau kekuatan dominan. Kekuatan hegemoni berfungsi untuk menyediakan dan berperan dalam membangun dan memelihara norma dan aturan dari orde ekonomi liberal, dan apabila tidak ada kekuatan ini, akan mengakibatkan melemahnya orde ekonomi liberal. Negara lain menerima aturan dan norma dari hegemon dikarenakan prestis dan status dari hegemon dalam sistem politik internasional. Hegemon menggunakan pengaruhnya untuk menciptakan rezim internasional.[3]

Dari pembahasan tiga teori tadi dan mengkaitkannya dengan dewasa ini, maka ketiga teori tersebut menurut penulis masih absah digunakan hingga sekarang. Terbukti dalam menyikapi beberapa kasus, ketiga teori ini akan memiliki pandangannya masing-masing. Kasus krisis global yang melanda Amerika dan penduduk dunia pada tahun 2008 yang lalu dapat disikapi dengan berbeda. Misalnya melalui pandangan dualisme, krisis global adalah suatu keadaan dimana peran pemerintah dan ekonomi terintegrasikan secara ”terpaksa”sebagai bentuk konsekuensi, karena pasar telah tidak mampu menangani sendiri masalah yang terjadi didalamnya. Jadi pemerintah dalam hal ini turut campur untuk menyeleseikan krisis dengan mengambil kebijakan dan meregulasi pasar. Seperti kebijakan menyuntikan dana pada pasar yang dilakukan oleh Presiden Obama. Sementara itu, pandangan MWS akan berbeda dalam menyikapi masalah tersebut. Kedekatan dan neoimperialisme yang dilakukan oleh pihak core mengakibatkan apabila terjadi suatu masalah dengan negara core akan memberikan efek signifikan terhadap negara semperiphery dan periphery sebagai akibat adanya interdependensi. Terbukti dengan jatuhnya perekonomian Amerika memberikan imbas signifikan pada negara-negara lain seperti Jepang yang mengalami kejatuhan devisa dan hampir bangkrutnya saham perusahaan-perusahaan otomotifnya seperti HONDA, dan Indonesia yang mengalami penurunan drastis dalam bidang eksportir barang-barang kayunya ke Amerika yang mengakibatkan beberapa perusahaan gulung tikar. Selain itu, apabila memandang fenomena krisis global melalui pandangan Teori Stabilitas Hegemoni maka akan tampak pada aksi Amerika yang merasa bertanggungjawab sekaligus memimpin dalam penyeleseian kasus krisis global tersebut. Amerika mengambil langkah dengan mendorong diadakannya pertemuan G-20 yang beranggotakan negara-negara maju dan berkembang yang memiliki peranan signifikan dalam pasar internasional. Sebagai hegemon dalam pertemuan ini, setidaknya Obama memberikan 15 point anjuran yang disampaikan dalam sidang untuk dilaksanakan secara bersama oleh negara-negara di dunia.

 

Struktur Internasional : Apakah statis?

Struktur internasional adalah bagian dari keseluruham ekonomi yang muncul dalam keadaan relatif stabil yang menyediakan hambatan dan kesempatan agar membuat para aktor berusaha untuk mencapai tujuannnya. Struktur ini meliputi institusi sosial, distribusi hak milik, divisi tenaga kerja, lokasi dari aktivitas ekonomi, organisasi pasar, dan norma atau rezim urusan ekonomi pemerintahan. Struktur yang berjalan dapat juga mengalami perubahan apabila institusi dan hubungan fundamental di dalamnya mengalami perubahan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perubahan struktur menurut Gilpin adalah teknologi.[4]

Struktur EPI terbentuk karena adanya interaksi antara negara dengan pasar yang melibatkan faktor-faktor penting dari ekonomi dunia. Struktur ini merefleksikan kekuatan aktor dan kekuatan pasar. Kestabilan dari struktur ini senantiasa mendapatkan tantangan dari banyak pihak yang mengakibatkan munculnya ”structure change”. Beberapa faktor yang dapat dikategorikan sangat mempengaruhi ketidakstabilan struktur adalah[5] :

  1. Ketidakmerataan pertumbuhan antara ekonomi nasional. Struktur hirarki internasional membagi negara menjadi core dan periphery, dimana core bertindak sebagai pengeksplor sumber daya negara periphery yang menimbulkan term ”yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”. Hal ini akan menimbukan ketidakstabilan struktur apabila negara periphery dibiarkan berada pada keadaan underdevelop. Tidak dapat dipungkiri negara periphery selain penyedia sumber daya juga merupakan pasar yang besar untuk negara core. Karenanya negara core harus senantiasa membantu dan berhubungan dekat dengan negara periphery. Inilah apa yang penulis sebut dengan dilema interdependensi.
  2. Naik dan turunnya leading sector. Kenaikan dan penurunan leading sector erat kaitannya dengan tiga hal yaitu product cycle, politik, dan monopoli teknologi. Product cycle berbicara tentang siklus dalam industri bahan mentah dimana eksistensinya sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas bahan itu sendiri. Konflik politik akan berimbas pada goyahnya kontrol ekonomi dan monopoli teknologi akan menciptakan kompetisi dalam dinamika EPI.
  3. Long-term variasi dalam pertumbuhan ekonomi. Joseph Schumpeter membuat suatu teori tentang siklus bisnis yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia yang disebut ”Kondratieff”. Schumpeter menyatakan bahwa siklus pertumbuhan ekonomi dunia akan senantiasa berganti setiap 50 tahun. Tetapi pandangan ini mendapat banyak kritik dan penyempurnaan oleh berbagai kalangan ahli ekonomi seperti masukan tentang peran dinamika politik domestik maupun internasional yang juga ikut berpengaruh dalam perkembangan ekonomi suatu negara.

 

Amerika dan Posisinya sebagai Hegemoni: Still exsist?

Kemunculan Amerika sebagai negara hegemon dimulai dengan kiprahnya dalam dibentuknya institusi internasional pada era berakhirnya Perang Dunia II di Bretton Wood, New Hamprise. Pada pertemuan ini dibentuklah tiga institusi internasional yaitu IMF, Bank Internasional, dan GATT.[6] Menurut penulis, ketiga institusi yang dibentuk ini merupakan aplikasi atau alat yang digunakan Amerika untuk memantapkan dan melegitimasi posisi hegemonnya. Hal ini dikarenakan peraturan di dalam institusi menyebutkan pemilik donasi tertinggi adalah dia yang dipatuhi dan didengarkan suaranya. Dan fakta menyebutkan bahwa Amerika adalah pemilik donasi terbesar di dalam tiga institusi ini, yaitu sebesar 31% dari keseluruhan donasi.[7]

Kekuatan hegemoni Amerika ditunjukkan oleh banyak tindakan yang tidak hanya merambah dunia ekonomi tapi mulai turut dalam politik, militer dan sosial negara lain. Seperti contohnya kebijakan Marshall Plan, bantuan senjata pada perang Arab-Israel, ikut berperan dalam perang Korea dan Vietnam, mengganti sistem Bretton Wood yang menggunakan penakaran emas dengan dolar, hingga aksi pemberantasan terorisme di Afganistan. Level kekuatan yang ditunjukkan oleh Amerika dalam aksinya menimbulkan konsekuensi regional yang dirasakan negara-negara lain, seperti dibentuknya EEC yang akhirnya menjadi Uni Eropa dewasa ini. Selain itu, munculnya banyak MNC juga merupakan bukti dari usaha untuk menghambat pengaruh hegemon Amerika.[8]

Menurut penulis kondisi hegemon yang diduduki Amerika dewasa ini telah mengalami degradasi atau tidak sekuat masa-masa Perang Dingin dan beberapa saat setelah Perang Dingin. Merujuk pada teori Jhon Rennie Short tentang negara Superpower, Short memberikan dua karakteristik tentang negara superpower yaitu[9] :

  1.  Melegitimasi kekuatannya melalui ideologi.
  2.  Superpowers do not last forever.

Penulis akan menekankan pada poin kedua yaitu bahwa superpower tidak akan bertahan selamanya. Banyak hal-hal yang telah ditunjukkan Amerika akan penurunannya yang signifikan, seperti contohnya pendapatan devisanya telah tersaingi beberapa negara seperti Jerman dan China. Hal ini memperkuat pendapat penulis tentang mulai munculnya hegemoni yang tidak bersifat tunggal tetapi hegemon yang persifat multiple dalam term Multipolar di ranah ekonomi politik internasional.

 

Referensi  :

Gilpin, Robert. 1987. “The Dynamics of International Political Economy”, dalam the Political Economy of International Relations, Princeton: Princeton University Press

Lairson, Thomas D. and D. Skidmore. 1993. “The Political Economy of American Hegemony: 1938-1973”, dalam International Political Economy: the Struggle for Power and Wealth, Orlando: Harcourt Brace College Publishers

Short,John Rennie.1993.An Introduction to Political Geography.New York:Routledge


[1] Gilpin, Robert. 1987. “The Dynamics of International Political Economy”, dalam the Political Economy of International Relations, hal.66-67

[2] Ibid, hal 67-71

[3] Ibid, hal 72-80

[4] Ibid, hal 80-82

[5] Ibid, hal 92-117

[6] Lairson, Thomas D. and D. Skidmore. 1993. “The Political Economy of American Hegemony: 1938-1973”, dalam International Political Economy: the Struggle for Power and Wealth, hal. 63

[7] Ibid, hal 65

[8] Ibid, hal 81

[9] Short,John Rennie.1993.”The State and The World Order” dalam An Introduction to Political Geography, hal. 73

About these ads

About miradialazuba

Hai, my name is Mira and in this blog you will know more about me...about my beautiful life...my adventure, my glory, my poor, my sad...and everything about me...see it...and you have to know that my life is the exciting one :)

Posted on Maret 17, 2012, in Journal of International Relations. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: